Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sejarah Mudik Lebaran: Tradisi Pulang Kampung yang Sudah Ada Sejak Abad ke-14

Slamet Harmoko • Senin, 16 Maret 2026 | 09:52 WIB

ARUS MUDIK: Para penumpang menaiki KM Leuser dari Pelabuhan Sampit menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Senin (24/3).
ARUS MUDIK: Para penumpang menaiki KM Leuser dari Pelabuhan Sampit menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Senin (24/3).

Radarsampit.jawapos.com - Mudik Lebaran telah menjadi tradisi yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, jutaan orang berbondong-bondong meninggalkan kota tempat mereka bekerja untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga.

Bagi banyak orang, perjalanan mudik bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi ini menjadi momen penuh makna untuk mempererat silaturahmi, melepas rindu kepada orang tua, serta merayakan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.

Namun jika ditelusuri lebih jauh, sejarah mudik di Indonesia ternyata memiliki akar yang sangat panjang. Tradisi pulang kampung ini tidak hanya lahir pada era modern, tetapi telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dalam perjalanan sejarah masyarakat Nusantara.

Kata Mudik Sudah Ada Sejak Tahun 1390

Menariknya, istilah “mudik” sendiri ternyata sudah tercatat dalam naskah kuno sejak abad ke-14.

Wikipediawan sekaligus Direktur Utama Narabahasa, Ivan Lanin, menjelaskan bahwa kata mudik ditemukan dalam naskah berbahasa Melayu yang diperkirakan ditulis sekitar tahun 1390.

Dalam naskah tersebut, kata mudik memiliki arti “pergi ke hulu sungai”. Pengertian ini berkaitan erat dengan kondisi geografis masyarakat pada masa lampau yang banyak bermukim di sekitar aliran sungai.

Istilah tersebut berhubungan dengan kata “udik” yang berarti daerah hulu sungai. Kata ini biasanya dipasangkan dengan istilah “ilir” yang berarti hilir sungai.

Pada masa itu, perjalanan menuju hulu sungai sering dilakukan masyarakat karena wilayah tersebut menjadi lokasi permukiman atau tempat asal mereka.

Perubahan Makna Menjadi Pulang Kampung

Seiring berjalannya waktu, makna kata mudik mengalami perubahan.

Dari arti awal yang merujuk pada perjalanan menuju hulu sungai, mudik kemudian berkembang menjadi perjalanan kembali ke kampung halaman.

Perubahan makna ini terjadi karena wilayah hulu sungai pada masa lalu sering dianggap sebagai tempat asal seseorang. Dari sinilah muncul pengertian baru bahwa mudik berarti kembali ke tempat asal.

Dalam perkembangannya, kampung halaman tidak lagi hanya merujuk pada desa, tetapi juga bisa berarti kota atau daerah tempat seseorang dilahirkan atau dibesarkan.

Dengan demikian, makna utama mudik tetap sama, yakni perjalanan kembali ke tempat asal.

Tradisi Pulang Kampung Sejak Zaman Kerajaan

Selain dari sisi bahasa, kebiasaan pulang ke tempat asal juga sudah dikenal sejak masa kerajaan di Nusantara.

Dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Aji Sampurno, menjelaskan bahwa praktik pulang kampung sudah terjadi sejak masa Kerajaan Majapahit hingga Mataram Islam.

Pada masa tersebut, wilayah kekuasaan Majapahit sangat luas, bahkan disebut membentang hingga Semenanjung Malaya.

Untuk menjaga wilayah yang luas itu, kerajaan menugaskan banyak pejabat serta aparat pemerintahan ke berbagai daerah.

Para pejabat yang bertugas jauh dari pusat pemerintahan biasanya akan kembali ke pusat kerajaan atau ke kampung halaman mereka pada waktu-waktu tertentu.

Perjalanan kembali tersebut sering dianggap sebagai salah satu bentuk awal dari tradisi mudik yang dikenal masyarakat saat ini.

Istilah Mudik Populer Sejak 1970-an

Meski kebiasaan pulang kampung sudah ada sejak lama, istilah mudik sebagai sebutan populer baru dikenal luas pada sekitar tahun 1970-an.

Pada masa itu, Indonesia mulai mengalami urbanisasi besar-besaran. Banyak masyarakat dari desa atau kota kecil merantau ke kota besar seperti Jakarta untuk mencari pekerjaan dan memperbaiki kehidupan.

Para perantau biasanya bekerja sepanjang tahun di kota, dan hanya memiliki kesempatan pulang kampung saat libur panjang, terutama ketika Idul Fitri.

Fenomena inilah yang kemudian membuat perjalanan pulang kampung menjadi aktivitas massal yang dilakukan oleh jutaan orang secara bersamaan.

Sejak saat itu, istilah mudik semakin populer digunakan untuk menggambarkan tradisi pulang kampung menjelang Lebaran.

Beragam Makna Mudik dalam Budaya Lokal

Selain berasal dari bahasa Melayu kuno, kata mudik juga memiliki penafsiran dalam berbagai budaya lokal di Indonesia.

Dalam bahasa Jawa, mudik sering dianggap sebagai singkatan dari “mulih disik”, yang berarti pulang dulu.

Sementara dalam bahasa Betawi, mudik diartikan sebagai kembali ke “udik”, yakni kampung atau daerah asal seseorang.

Perubahan dari kata udik menjadi mudik kemudian terjadi melalui proses perkembangan bahasa yang akhirnya digunakan secara luas oleh masyarakat.

Kini, mudik tidak hanya sekadar perjalanan pulang kampung. Tradisi ini telah menjadi bagian penting dari budaya Indonesia, yang mencerminkan kerinduan pada keluarga, kampung halaman, serta keinginan untuk mempererat hubungan silaturahmi di momen Lebaran. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#pulang kampung #mudik #sejarah mudik #mudik lebaran #abad 14