
PANGKALAN BUN – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar mencatat sebanyak 111 kejadian Karhutla terjadi sepanjang Januari hingga Juli 2026 dengan total lahan yang terbakar mencapai 113 hektare.
Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Kobar, Andan Santana, mengatakan kebakaran tersebut tersebar di enam kecamatan. Kecamatan Arut Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 59 kali, disusul Kecamatan Kumai 39 kali.
Kotawaringin Lama sembilan kali, Pangkalan Banteng tiga kali, serta Arut Utara dan Pangkalan Lada masing-masing satu kali.
"Karhutla yang tercatat terjadi di enam kecamatan. Hingga saat ini Kecamatan Pangkalan Lada dan Arut Utara masing-masing satu kasus karhutla," ujarnya, Jumat (24/07/2026).
Menurut Andan, jumlah kejadian maupun luasan lahan yang terbakar berpotensi terus bertambah karena kebakaran masih terjadi hampir setiap hari. Kondisi cuaca yang panas serta masih adanya aktivitas pembakaran sampah oleh masyarakat menjadi faktor utama penyebab Karhutla.
Sementara itu, Stasiun Meteorologi Bandara Iskandar Pangkalan Bun mencatat suhu udara di Kobar telah menembus lebih dari 36 derajat Celsius. Cuaca panas tersebut juga diikuti meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) yang hingga akhir Juli mencapai 85 titik sejak awal tahun.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Bandara Iskandar, Ayu Istiqomah, menjelaskan Kobar saat ini tengah memasuki musim kemarau yang diperkuat oleh aktifnya Monsun Australia.
Kondisi tersebut membawa massa udara kering sehingga curah hujan berkurang dan kelembapan udara di lapisan atas berada di bawah 50 persen.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





