Karhutla Belum Padam Total, Polres Kobar Kini Patroli Pakai Drone

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 08:48 WIB
PATROLI UDARA: Polres Kobar gunakan dorne termal yang bisa mengetahui titik api lewat udara. (humas Polres Kobar)
PATROLI UDARA: Polres Kobar gunakan dorne termal yang bisa mengetahui titik api lewat udara. (humas Polres Kobar)

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) rupanya belum cukup hanya dihadapi dengan selang, mobil pemadam, dan orang-orang yang berjibaku mengejar api. Polres Kotawaringin Barat (Kobar) kini ikut mengawasi dari udara menggunakan drone.

Patroli udara tersebut dilakukan Polres Kobar bersama seluruh Polsek jajaran. Sasarannya adalah kawasan yang dianggap berpotensi mengalami karhutla, sekaligus menjadi langkah pencegahan agar api tidak keburu berubah menjadi masalah yang lebih besar.

Inisiatif ini digagas langsung Kapolres Kobar AKBP Joko Handono. Drone digunakan untuk memantau wilayah yang sulit dijangkau lewat jalur darat, termasuk kawasan gambut.

Dengan kamera yang terpasang di dalamnya, drone dapat membantu petugas mendeteksi asap atau hotspot sejak dini. Bukan cuma itu, petugas juga bisa memetakan lahan yang rawan terbakar sekaligus mencari sumber air terdekat jika sewaktu-waktu diperlukan untuk pemadaman.

“Melalui pantauan udara ini, kami tidak hanya mendeteksi keberadaan asap atau hotspot (titik panas) secara dini, tetapi juga memetakan batas lahan rawan serta mencari sumber air terdekat untuk persiapan pemadaman cepat,” ujar Kapolres.

Wilayah yang mendapat perhatian lebih termasuk kawasan sekitar Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Pengawasan di area ini penting karena selain rawan karhutla, kawasan tersebut merupakan ekosistem yang tidak bisa diperlakukan seperti lahan kosong.

Patroli drone setidaknya membuat petugas punya mata tambahan di udara. Wilayah yang sulit didatangi dengan kendaraan bisa dipantau lebih cepat tanpa harus menunggu petugas tiba di lokasi.

Namun, drone tentu bukan tongkat sakti yang bisa membuat api mendadak kapok.

Karena itu, patroli udara juga dibarengi langkah pencegahan di lapangan. Polres Kobar dan seluruh Polsek jajaran tetap memberikan edukasi kepada masyarakat serta menyebarkan maklumat larangan membakar hutan.

Teknologi memang bisa membantu mempercepat deteksi. Tetapi kalau pencegahan berhenti di kamera drone, masalah karhutla tentu belum selesai.

Pengawasan tetap harus berjalan, begitu pula edukasi kepada masyarakat. Sebab, mendeteksi asap lebih cepat memang penting, tetapi mencegah munculnya asap sejak awal tentu jauh lebih murah dan lebih masuk akal.

Polres Kobar berharap kombinasi patroli udara, pengawasan lapangan, dan edukasi masyarakat dapat menekan ancaman karhutla serta menjaga wilayah Kobar tetap aman dari kabut asap.

Setidaknya, sebelum warga sempat bertanya, “Itu asap dari mana?”, polisi berharap drone sudah lebih dulu menemukan jawabannya. (*)

Editor : Slamet Harmoko
patroli drone drone termal polres kobar