Terdengarnya suara dentuman yang berasal dari langit Kabupaten Kotawaringin Timur dan sempat menghebohkan warga, diduga kuat berasal dari tabrakan hujan Meteor Orionid dengan atmosfer. Pasalnya, fenomena tersebut telah dikabarkan akan terjadi puncaknya pada malam 21-22 Oktober 2026. Sebagaimana dilansir dari laman Natural History Museum (NHM), hujan meteor Orionid sejatinya aktif sepanjang bulan Oktober hingga awal November.
Fenomena tahunan ini berpotensi menampilkan sekitar 15-20 meteor per jam apabila cuaca cerah dan kondisi pengamatan mendukung. Waktu pengamatan yang disarankan adalah setelah tengah malam hingga menjelang Matahari terbit.Lokasi dengan langit gelap dan pandangan terbuka menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang melihat meteor melintas.
Dikutip dari Space.com, hujan meteor Orionid berasal dari serpihan debu yang ditinggalkan Komet Halley saat mengelilingi Matahari. Ketika Bumi melintasi jalur debu tersebut, partikel-partikel kecil memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi hingga menghasilkan kilatan cahaya yang terlihat seperti bintang jatuh.
Baca Juga: Suara Dentuman Misterius Mirip Guntur, Terdengar dari Langit Kotim
Orionid terjadi saat Bumi melintasi puing Komet Halley yang memasuki atmosfer dengan kecepatan 237 ribu kilometer per jam.
Peristiwa ini berulang setiap tahun karena Bumi kembali melintasi jalur debu yang berkaitan dengan Komet Halley. Banyaknya meteor yang dapat diamati tidak selalu sama, sebab hasil pengamatan dipengaruhi oleh keadaan langit dan lingkungan sekitar. Nama Orionid merujuk pada rasi bintang Orion, yaitu wilayah langit tempat meteor-meteor tersebut tampak seolah-olah berasal. Titik pancar semunya berada di dekat bagian gada yang diangkat oleh Orion, tidak jauh dari Betelgeuse, bintang yang tampak kemerahan.Meskipun titik pancarnya berada di sekitar rasi Orion, meteor dapat terlihat melintas di berbagai arah.
Sementara itu terkait suara dentuman atau sonic boom yang kadang menyertai benda dari langit bisa berasal dari bolide atau fireball (meteor berukuran cukup besar, sekitar 1 meter atau lebih) yang memasuki atmosfer dengan kecepatan hipersonik dan menciptakan gelombang kejut.
Di Indonesia peristiwa tersebut baru-baru ini tercatat di beberapa daerah, seperti di Gorontalo (September 2026); Kilatan bola api (fireball) disertai suara dentuman akibat kecepatan hipersonik. Kemudian di Cirebon & Tegal (Oktober 2025); Bola api dan suara dentuman yang bertepatan dengan periode hujan meteor Draconid, namun dipastikan merupakan meteor sporadis/bolide tunggal. Kemudian di Yogyakarta–Cirebon (Juli 2026), Dentuman akibat pecahan asteroid kecil (bolide) di ketinggian 46–48 km. (gus)
Editor : Agus Jaka Purnama