Seranau dan Pulau Hanaut Dominasi Hotspot, Bagaimana Kondisi di Lapangan?

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 13:02 WIB
Kabut asap menutup sebagian wilayah Kecamatan Seranau terpantau dari Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Minggu sore (11/10/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)
Kabut asap menutup sebagian wilayah Kecamatan Seranau terpantau dari Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Minggu sore (11/10/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kecamatan Seranau dan Pulau Hanaut menjadi wilayah dengan deteksi titik panas terbanyak di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Data pemantauan satelit selama 24 jam terakhir hingga Senin (12/10/2026) pukul 07.00 WIB mencatat 165 hotspot di Seranau dan 162 hotspot di Pulau Hanaut.

Data rekapitulasi BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit bersama BPBD Kotim itu mencatat total 731 titik panas di wilayah Kotim. Sebaran tersebut terpantau melalui sensor satelit SNPP dan NOAA20.

"Di Seranau, sebanyak 162 titik masuk kategori tingkat kepercayaan menengah dan tiga titik kategori tinggi. Sementara itu, seluruh 162 titik panas di Pulau Hanaut berada dalam kategori tingkat kepercayaan menengah," ungkap Forrcaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Suci Priantin Ningsih. 

Setelah kedua kecamatan tersebut, sebaran hotspot terbanyak berikutnya berada di Teluk Sampit dengan 130 titik dan Mentaya Hilir Utara sebanyak 88 titik.

Meski demikian, jumlah hotspot tersebut belum otomatis menunjukkan jumlah kebakaran aktif yang telah terkonfirmasi di lapangan. Deteksi satelit perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan untuk memastikan lokasi, kondisi, serta luas lahan yang terbakar.

Peta tingkat kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) BMKG pada 12 Oktober juga menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah bagian tengah dan selatan, termasuk Kotim, berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Kondisi tersebut diprakirakan masih bertahan pada 13 Oktober.

Di sisi lain, potensi pertumbuhan awan hujan di Kotim diprakirakan berada pada kategori sedang, yakni 50–70 persen, untuk periode 12 Oktober pukul 07.00 WIB hingga 13 Oktober pukul 07.00 WIB. Namun, prakiraan hujan ringan pada periode yang sama lebih terkonsentrasi di wilayah utara Kotim.

"Sementara itu, kondisi kabut asap di Sampit masih menjadi perhatian. Pengamatan BMKG di Stasiun Meteorologi Haji Asan pada Senin pagi mencatat jarak pandang turun dari 200 meter pada pukul 08.00 WIB menjadi 100 meter pada pukul 09.00 WIB," imbuhnya. 

Data aplikasi ISPUnet pada pukul 08.00 WIB juga menunjukkan nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kotim mencapai 318 atau kategori berbahaya, dengan PM2.5 sebagai parameter pencemar kritis.

Besarnya jumlah deteksi hotspot di Seranau dan Pulau Hanaut memunculkan pertanyaan mengenai kondisi kebakaran di kedua wilayah tersebut. Verifikasi lapangan diperlukan untuk mengetahui berapa titik yang benar-benar terbakar, luas lahan terdampak, serta langkah pemadaman yang telah dilakukan.

Hingga data yang tersedia ini, belum ada keterangan terperinci mengenai hasil pengecekan lapangan di Seranau dan Pulau Hanaut. Kondisi aktual di kedua kecamatan tersebut perlu dikonfirmasi kepada BPBD Kotim atau petugas penanganan karhutla. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Pulau Hanaut seranau kabut asap