Asap Menetap Saat Angin Lemah, ISPU Kotim Sempat Tembus 1.000

M. Akbar • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 13:22 WIB
Kabut asap pekat yang terjadi di ruas jalan HM Arsyad Sampit, belum lama ini.  (Akbar/Radar Sampit)
Kabut asap pekat yang terjadi di ruas jalan HM Arsyad Sampit, belum lama ini. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih berfluktuasi akibat sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Saat kecepatan angin rendah, asap cenderung menetap sehingga konsentrasinya meningkat dan ISPU sempat menembus angka 1.000.

Koordinator Lapangan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan perubahan nilai ISPU dapat terjadi dalam hitungan jam. Kondisi tersebut dipengaruhi asap dari karhutla di wilayah lokal maupun asap kiriman dari daerah lain.

“ISPU itu masih fluktuatif. Dalam hitungan jam saja nilainya bisa naik dan bisa turun,” kata Rihel, Senin (5/10).

Menurutnya, asap yang berada di wilayah Sampit, terutama di sekitar titik pemantauan ISPU, tidak seluruhnya berasal dari kebakaran di dalam kota. Sebagian asap merupakan kiriman dari wilayah lain, seperti Kecamatan Seranau, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit.

“Pengaruhnya dari asap. Sumber asap juga ada dari lokal Sampit dan ada yang merupakan asap kiriman,” jelasnya.

Rihel menjelaskan, penumpukan asap terjadi ketika asap kiriman bercampur dengan asap dari karhutla lokal. Kondisi tersebut semakin pekat ketika kecepatan angin rendah atau tidak ada angin sehingga asap tertahan di wilayah perkotaan.

“Setelah asap sampai ke kota, ketika kecepatan angin rendah atau tidak ada angin, akhirnya menetap di kota. Itu yang membuat asap semakin tebal dan ISPU naik, bahkan sampai 1.000 lebih,” ujarnya.

Kondisi tersebut turut memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah. Rihel menyebutkan, jarak pandang berbeda-beda tergantung konsentrasi asap. Bahkan, beberapa waktu lalu jarak pandang sempat menurun hingga hanya 10–20 meter.

Meski nilai ISPU saat ini telah menurun, Rihel mengatakan kondisi tersebut belum dapat dikategorikan aman. Menurutnya, nilai ISPU yang ideal berada di bawah 50.

“Sebenarnya yang aman ISPU di bawah 50. Yang paling parah pernah di atas 1.000, biasanya sekitar 400, 300,” terangnya.

Ia mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai kondisi kualitas udara yang dapat berubah dengan cepat. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi konsentrasi asap, sehingga kondisi udara di suatu wilayah dapat berbeda dalam waktu yang relatif singkat.

Karena itu, masyarakat diimbau memperhatikan kondisi udara sebelum beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap kembali menebal dan jarak pandang menurun.  (Ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
ISPU Kotim kabut asap