
Malam di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tak lagi menyajikan kesenyapan yang menentramkan. Lebih dari sepekan terakhir, udara di desa yang ditinggali sekitar 150 kepala keluarga (KK) ini sarat akan asap tebal dan aroma hangus yang menyengat.
----------------------
Di desa yang berada di Kecamatan Seranau Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) itu, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya melahap semak belukar dan hutan di sekitarnya. Ruang gerak dan ketenangan warga pun terancam, hingga memaksa mereka gigih bertahan mencegah menjalarnya api.
Kini, ancaman itu bukan lagi cerita di tengah belantara. Layar GPS menunjukkan angka yang membuat dada sesak. Titik api hanya berjarak 500 hingga 600 meter dari pemukiman warga. Kurang dari satu kilometer. Jarak yang terlampau tipis untuk memisahkan amukan si jago merah dengan atap-atap rumah tempat warga berteduh.
Rasa cemas mereka sampai melumpuhkan lelap. Tak ada lagi warga yang bisa tidur nyenyak di dalam rumah. Demi membendung pergerakan api agar tidak melalap kampung halaman, warga bersama aparat pemerintah setempat memilih bertahan di garis depan.
Sejak dua hari terakhir, hutan menjadi kediaman sementara. Dengan fasilitas seadanya, warga rela menginap di tengah rimba demi memasang mata dan telinga. Mereka membagi kekuatan di empat titik strategis, dekat anak sungai. Titik yang dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir.
Pos-pos darurat itu berdiri di dekat aliran Sungai Hambawang, Sungai Mahadi, Sungai Lemiring, dan Ganepo.
"Jarak dari titik api ke permukiman warga mungkin tidak sampai satu kilometer lagi. Bahkan saat saya cek melalui GPS, hanya berkisar 500-600 meter saja. Sudah dua hari ini saya bersama warga tidur di pos-pos yang kami buat di hutan ini untuk berjaga dan melakukan pemadaman ke lokasi yang bisa dijangkau. Ini hari ketiga kami menginap di sini," tutur Camat Seranau, Dwi Kushendro, saat dibincangi di lokasi, Rabu (24/9).
Baca Juga: Terkendala Peralatan, Karhutla di Desa Ganepo Meluas, Wabup Kotim Minta Perusahaan Turun Tangan
Sementar kondisi para penjelajah malam pemadam api yang selalu siaga sungguh memprihatinkan. Tanpa kasur empuk atau selimut tebal, mereka hanya beralaskan terpal tipis di atas tanah lembap. Tidak ada perlengkapan mewah yang dibawa, selain mesin pompa air dan gulungan selang yang menjadi senjata utama mereka melawan kobaran api yang terus merayap.
Perjuangan di lapangan makin berat karena keterbatasan armada dan sulitnya akses menembus titik api. Dari delapan unit mesin pompa air yang dimiliki, hanya lima yang sanggup melontarkan air. Tiga unit sisanya mangkrak dalam kondisi rusak. Untuk urusan pasokan air, kreativitas darurat jadi tumpuan. Warga membendung anak-anak sungai secara tradisional saat air pasang masuk demi membuat embung buatan.
Namun, duka warga Ganepo sebetulnya sudah membumbung sebelum api mendekati perumahan. Banyak dari mereka yang harus mengelus dada menyaksikan mata pencaharian mereka hancur menjadi abu. Kebun-kebun sawit, tanaman rotan, hingga komoditas pertanian yang menjadi tumpuan hidup sehari-hari telah lebih dulu dilalap api.
"Kebun warga sudah banyak terbakar, kini rumah yang menjadi tempat tinggal juga terancam. Karena itu kini kami lebih fokus menjaga agar api tidak menjalar ke permukiman," kata Kepala Desa Ganepo, Cici Lili Rianty, yang terus bersiaga memantau ke posko-posko perlawanan.
Bagi warga Ganepo, kehilangan kebun adalah pukulan berat, tetapi kehilangan rumah adalah bencana yang tak boleh terjadi. Di bawah pekatnya asap dan deru mesin pompa yang terbatas, mereka terus bertahan di atas lembaran terpal, menjaga benteng terakhir kampung halaman dari serbuan api. (uzi/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama