Daftar Kecelakaan Pelayaran Maut di Indonesia, dari Tampomas II hingga Virgo Transport 8

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 17:59 WIB
Kapal Virgo Transport 8 dinyatakan hilang kontak dan diyakini tenggelam di Laut Jawa, Minggu (13/9/2026). (Instagram @pt.virgokaryashipping)
Kapal Virgo Transport 8 dinyatakan hilang kontak dan diyakini tenggelam di Laut Jawa, Minggu (13/9/2026). (Instagram @pt.virgokaryashipping)

Radarsampit.jawapos.com – Kecelakaan pelayaran kembali menjadi perhatian setelah Virgo Transport 8 rute Surabaya–Banjarmasin dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9/2026).

Kapal tersebut sebelumnya dilaporkan menghadapi cuaca buruk sebelum komunikasi terputus sekitar pukul 02.00 WITA.

Laporan awal Kantor Pencarian dan Pertolongan Banjarmasin menyebut terdapat 243 orang di dalam kapal.

Hingga perkembangan terakhir pukul 14.00 WITA dalam laporan yang diperoleh redaksi, proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung.

Baca Juga: Inilah Daftar Nama Penumpang Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi

103 orang penumpang dilaporkan berhasil dievakuasi sedangkan 143 orang lainnya masih dalam pencarian dengan 6 orang dilaporkan meninggal dunia.

Peristiwa tersebut menambah daftar panjang kecelakaan pelayaran di Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah kapal mengalami kecelakaan dengan korban jiwa mencapai puluhan hingga ratusan orang.

Berikut sejumlah kecelakaan pelayaran besar yang pernah terjadi di Indonesia:

1. KMP Tampomas II – 1981

KMP Tampomas II terbakar dan tenggelam di sekitar Kepulauan Masalembo, Laut Jawa, pada Januari 1981.

Kapal tersebut membawa lebih dari 1.000 orang. Tragedi ini menjadi salah satu kecelakaan pelayaran paling mematikan dalam sejarah Indonesia.

Salah satu catatan sejarah menyebut sebanyak 431 orang meninggal dunia, sementara 753 orang berhasil diselamatkan.

Peristiwa Tampomas II menjadi sorotan besar karena jumlah penumpang yang sangat banyak serta proses evakuasi yang berlangsung dalam kondisi darurat di tengah laut.

2. KM Senopati Nusantara – 2006

Pada 30 Desember 2006, KMP Senopati Nusantara tenggelam di Laut Jawa ketika berlayar dari Kalimantan menuju Jawa.

Kapal tersebut menghadapi cuaca buruk sebelum akhirnya karam.

Lebih dari 400 orang dilaporkan meninggal atau hilang dalam tragedi tersebut.

Peristiwa ini kembali memperlihatkan besarnya risiko pelayaran ketika kapal menghadapi perubahan cuaca dan kondisi laut yang ekstrem.

3. KM Zahro Express – 2017

Pada 1 Januari 2017, KM Zahro Express terbakar di perairan dekat Muara Angke, Jakarta, ketika dalam perjalanan menuju Pulau Tidung.

Kapal tersebut membawa lebih dari 200 orang.

Dalam tragedi itu, 24 orang meninggal dunia, sedangkan 194 orang lainnya selamat.

Kasus Zahro Express juga menyoroti aspek kelayakan kapal dan kesiapan menghadapi keadaan darurat. Nakhoda kemudian ditetapkan sebagai tersangka karena kapal dinilai tidak layak berlayar dan terdapat unsur kelalaian.

4. Sinar Bangun – 2018

Pada 18 Juni 2018, KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara.

Kapal tersebut membawa penumpang dan kendaraan. Investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan persoalan serius terkait pemuatan.

Kapal yang disetujui mengangkut 48 orang ternyata membawa muatan jauh lebih besar. Kondisi tersebut disebut sebagai overload.

Beban berlebih memengaruhi stabilitas kapal dan kemampuan bermanuver. Cuaca buruk kemudian memperberat situasi.

Tragedi ini menjadi contoh bahwa kecelakaan kapal dapat terjadi akibat kombinasi berbagai faktor, bukan hanya satu penyebab.

5. KMP Lestari Maju – 2018

Tidak lama setelah tragedi Sinar Bangun, kecelakaan kembali terjadi di perairan Indonesia.

Pada 3 Juli 2018, KMP Lestari Maju mengalami kecelakaan di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Kapal mengalami kemasukan air dan kemudian dikandaskan oleh nakhoda untuk mencegah kapal tenggelam sepenuhnya.

Dalam salah satu pembaruan data, 36 orang meninggal dunia dan 166 orang selamat.

Kasus tersebut juga menyoroti pentingnya penggunaan alat keselamatan, termasuk jaket pelampung, ketika kapal mengalami keadaan darurat.

6. KMP Yunicee – 2021

Pada 29 Juni 2021, KMP Yunicee tenggelam di Selat Bali ketika mendekati Pelabuhan Gilimanuk.

Kapal membawa penumpang dan awak. Proses evakuasi sempat menghadapi persoalan pendataan karena adanya perbedaan antara manifes dan jumlah orang yang berada di kapal.

Dalam salah satu pembaruan Basarnas, 76 orang tercatat sebagai korban, terdiri dari 51 orang selamat, tujuh meninggal dunia, dan 18 lainnya belum ditemukan.

Peristiwa Yunicee kembali menunjukkan pentingnya manifes yang akurat dalam operasi pencarian dan penyelamatan.

Daftar penumpang bukan sekadar dokumen administrasi. Ketika kecelakaan terjadi, manifes menjadi salah satu acuan utama petugas untuk menentukan siapa yang harus dicari.

7. Virgo Transport 8 – 2026

Pada Minggu (13/9/2026), Virgo Transport 8 yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin dilaporkan hilang kontak.

Sekitar pukul 02.00 WITA, kapal yang sebelumnya dilaporkan menghadapi cuaca buruk tersebut kehilangan komunikasi.

Laporan awal Kantor Pencarian dan Pertolongan Banjarmasin menyebut terdapat 243 orang di dalam kapal. Posisi terakhir kapal berada sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.

Laporan hilang kontak diterima Kantor SAR Banjarmasin sekitar pukul 04.10 WITA. Enam personel penyelamat kemudian diberangkatkan sekitar pukul 04.30 WITA menggunakan KN SAR Laksmana 241.

Dalam perkembangan pencarian, kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi ikut membantu evakuasi.

Basarnas kemudian melaporkan 103 orang telah dievakuasi. Sebanyak 16 orang ditemukan TB Mauhau IX, 38 orang oleh TB TCP, dan 49 orang oleh MV Haida.

Dari 16 orang yang dievakuasi TB Mauhau IX, 15 orang selamat dan satu orang meninggal dunia.

Namun, data korban masih mengalami pembaruan. Pelindo kemudian menyebut jumlah yang telah dievakuasi mencapai 115 orang dengan satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka-luka.

Perbedaan data tersebut masih perlu disinkronkan dengan manifes resmi kapal.

Pelajaran dari Deretan Tragedi

Jika melihat sejumlah kecelakaan tersebut, penyebab dan kondisi setiap peristiwa memang berbeda.

Ada kapal yang menghadapi cuaca buruk, ada yang mengalami kebakaran, ada yang berkaitan dengan persoalan muatan, kelayakan kapal, hingga penggunaan alat keselamatan.

Namun, hampir seluruh kecelakaan menunjukkan satu persoalan yang sama: keselamatan pelayaran harus dipastikan sebelum kapal meninggalkan pelabuhan.

Kondisi kapal, jumlah penumpang, kapasitas muatan, kesiapan awak, alat keselamatan, informasi cuaca, hingga akurasi manifes menjadi bagian penting dari sistem keselamatan.

Sebab ketika kecelakaan sudah terjadi di tengah laut, waktu untuk memperbaiki kesalahan menjadi sangat terbatas.

Dan bagi penumpang, satu kesalahan dalam sistem keselamatan bisa menjadi pembeda antara pulang dengan selamat atau menjadi nama berikutnya dalam daftar korban. (*)

Editor : Slamet Harmoko
Sumber : Disarikan dari Berbagai Sumber
kecelakaan pelayaran KM Virgo Transport 8 Tampomas II