PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Jumlah titik panas atau hotspot kembali melonjak setelah sempat turun drastis dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data pemantauan Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kementerian Kehutanan periode 2–9 September 2026, tercatat 2.340 hotspot pada 9 September.
Baca Juga: Quo Vadis Peladang Masyarakat Adat Dayak?
Angka tersebut naik lebih dari dua kali lipat dibanding sehari sebelumnya yang hanya mencapai 950 titik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, karena peningkatan hotspot terjadi ketika Kalteng masih berstatus tanggap darurat karhutla.
Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Provinsi Kalteng bahkan mencatat dampak kebakaran yang cukup luas.
Hingga saat ini terdapat 2.819 kejadian karhutla dengan total lahan terbakar mencapai 9.228,04 hektare.
Sejumlah wilayah menjadi penyumbang kejadian karhutla terbanyak, di antaranya Palangka Raya, Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Kapuas.
Baca Juga: Kebakaran Hebat Landa Gudang Distributor Indomie di Palangka Raya
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng Agustan Saining mengatakan, perkembangan hotspot terus menjadi perhatian dalam upaya penanganan karhutla.
“Berdasarkan data tersebut, sejumlah daerah tercatat menyumbang hotspot cukup tinggi pada 9 September,” ujarnya, Kamis (10/9/2026).
Diuraikannya, Palangka Raya tercatat memiliki 398 hotspot. Kemudian Barito Selatan 36 titik, Gunung Mas 34 titik, Kapuas 247 titik, Katingan 218 titik, Kotawaringin Timur 281 titik, Pulang Pisau 560 titik, dan Seruyan 228 titik.
Pulang Pisau menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni mencapai 560 titik. Disusul Palangka Raya 398 titik dan Kotawaringin Timur 281 titik.
Sementara itu, beberapa daerah mencatat hotspot dalam jumlah relatif rendah. Barito Timur hanya mencatat satu titik dan Barito Utara dua titik. Sedangkan Murung Raya tidak mencatat hotspot pada 9 September.
Agustan menyebut, pergerakan hotspot sepanjang periode 2–9 September cukup fluktuatif. Pada 2 September tercatat 4.861 titik, kemudian turun menjadi 3.552 titik pada 3 September.
Namun, angka tersebut kembali meningkat menjadi 4.436 titik pada 4 September dan 5.357 titik pada 5 September.
“Puncaknya dalam periode tersebut tercatat 5.746 titik pada 6 September, sebelum turun tajam pada dua hari berikutnya,” ujarnya.
Pada 7 September, hotspot turun menjadi 1.824 titik. Sehari berselang, jumlahnya kembali turun hingga 950 titik.
Namun, penurunan tersebut tidak bertahan lama. Pada 9 September, jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 2.340 titik.
“Jumlah hotspot mengalami fluktuasi sepanjang periode 2 hingga 9 September,” jelas Agustan.
Kondisi itu membuat upaya pemadaman dan pencegahan karhutla harus terus diperkuat.
Sebab, hotspot yang kembali meningkat berpotensi memicu munculnya titik api baru dan memperburuk kualitas udara apabila kebakaran terjadi di kawasan yang berdekatan dengan permukiman.
Saat ini, status tanggap darurat karhutla di Kalteng masih berlangsung. Status tersebut ditetapkan sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026.
Agustan menambahkan, data hotspot yang digunakan dalam pemantauan tersebut memiliki tingkat kepercayaan medium-high. Data tersebut menjadi salah satu bahan bagi pemerintah dan petugas di lapangan dalam menentukan langkah penanganan karhutla.
“Status tanggap darurat karhutla Kalteng berlangsung pada 31 Agustus hingga 29 September 2026. Tingkat kepercayaan data hotspot dalam materi berada pada kategori medium-high,” pungkasnya.(daq/gus)