BMKG Luruskan Isu Air Hujan Hasil Operasi Modifikasi Cuaca

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 19:05 WIB
Imbauan yang beredar luas di media sosial, warga diharapkan tidak mudah terima informasi dari medsos begitu saja.
Imbauan yang beredar luas di media sosial, warga diharapkan tidak mudah terima informasi dari medsos begitu saja.

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Hujan yang turun di tengah upaya penanganan kabut asap menjadi perhatian masyarakat. Terlebih, beredar informasi di media sosial yang menyebut air hujan saat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berbahaya digunakan karena mengandung bahan kimia.

Informasi tersebut bahkan menyebut masyarakat sebaiknya tidak menampung air hujan untuk kebtuhan sehari-hari, mulai dari minum, memasak, mandi, mencuci hingga menyiram tanaman.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Suci Priatin Ningsih, meluruskan informasi tersebut. Menurutnya, kekhawatiran trehadap air hujan bukan disebabkan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan OMC.

Ia menjelaskan, proses modifikasi cuaca dilakukan denhgan penyemaian awan menggunakan bahan higroskopis, seperti Natrium Klorida (NaCl) atau garam. Bahan tersebut digunakan untuk membantu mempercepat proses kondensasi sehingaga pembentukan tetesan air hujan dapat berlangsung lebih efektif.

“Cara pembuatan modifikasi hujan dilakukan melalui proses penyemaian awan atau cloud seeding menggunakan bahan higroskopis seperti Natrium Klorida (NaCl) atau garam untuk mempercepat proses kondensasi tetesan air hujan,” jelas Suci.

Menurut dia, hal yang justru perlu diperhatikan masyarakat adalah kondisi kualitas udara saat hujan turun. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan dapat membawa debu maupun partikel halus yang berpotensi ikut memengaruhi kualitas air yqng ditampung.

“Bukan karena bahan yang digunakan dalam OMC, melainkan berkaitan dengan kondisi kualitas udara yang biasanya tercampur asap, debu, dan berbagai partikel halus akibat keabakaran hutan dan lahan,” terangnya.

Karena itu, Suci tetap mengingatkan masyarakat tidak langsung menggunakan air hujan sebagai air minum atau untuk memasak. Sumber air bersih yanqg telah terjamin kualitasnya tetap menjadi pilihan utama.

Jika kondisi tertentu membuat masyarakat harus memanfaatkan air hujan, ia menyarankan air ditampung setelah hujannturun cukup lama, sekitar 15 hingga 20 menit. Air tersebut kemudian perlu melalui penyaringan yang baik dan dimasak hingga mendidih sebelum dikonsumsi.

Dengan demikian, masyarakat diminta tidakbmudah mempercayai informasi yang beredar tanpa mengetahui penjelasan sebenranya. Di tengah kondisi kabut asap, kehati-hatian dalam memilih dan mengolah sumber air tetap penting untuk menjaga kesehatan. (yn) 

Editor : Slamet Harmoko
hujan buatan operasi modifikasi cuaca kemarau air hujan karhutla