Radarsampit.jawapos.com – Upaya penyelamatan orangutan jantan dewasa bernama Sempurna di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berakhir tragis.
Satwa dilindungi tersebut mati setelah ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan. Hasil nekropsi kemudian menunjukkan adanya gangguan pada paru-paru yang diduga berkaitan dengan paparan asap.
Sempurna ditemukan warga pada Minggu (30/8) sekitar pukul 07.00 WIB di dalam parit kering kawasan perkebunan kelapa sawit, Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.
Baca Juga: Detik-Detik Rescue Orangutan di Tengah Karhutla Sampit, Petugas Temukan Anak di Samping Induk
Saat ditemukan, kondisi orangutan tersebut sudah sangat mengkhawatirkan. Sempurna tidak mampu berdiri dan hanya dapat bergerak secara terbatas. Warga juga mendapati satwa itu mengalami kesulitan bernapas.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada petugas. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) langsung menuju lokasi untuk melakukan evakuasi dan memberikan pertolongan.
Sempat Diberi Oksigen dan Cairan Infus
Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan, pertolongan pertama diberikan kepada Sempurna di lokasi. Tim memberikan terapi oksigen serta cairan melalui intravena sebelum membawa satwa tersebut ke pusat rehabilitasi YIARI sekitar pukul 11.30 WIB.
Namun, kondisi Sempurna terus mengalami penurunan.
Baca Juga: Orangutan Muncul Saat Karhutla Melanda Bapanggang, BKSDA Pastikan Lokasinya Berbeda
“Namun, kondisi Sempurna terus menurun,” kata Murlan dalam keterangan tertulis, Jumat (4/9).
Sekitar pukul 14.00 WIB, frekuensi pernapasan Sempurna semakin melemah. Saturasi oksigennya bahkan tidak lagi terdeteksi.
Ketika menunjukkan tanda-tanda henti napas, tim medis segera melakukan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). Namun, berbagai upaya tersebut tidak berhasil.
“Upaya penyelamatan tersebut belum berhasil. Sempurna akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB,” jelas Murlan.
Paru-Paru Diduga Terdampak Paparan Asap
Untuk mengetahui kondisi organ tubuh sekaligus mencari faktor yang kemungkinan berkaitan dengan kematian Sempurna, tim melakukan nekropsi pada 1 September 2026.
Hasil pemeriksaan menemukan perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal.
Pada paru-paru ditemukan kongesti serta atelektasis parsial, terutama pada bagian kaudoventral kedua lobus paru.
Berdasarkan riwayat kondisi klinis dan hasil nekropsi, perubahan pada paru-paru tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap.
Paparan asap dinilai berpotensi mengganggu fungsi pernapasan hingga menyebabkan hipoksia akut, yaitu kondisi ketika tubuh kekurangan pasokan oksigen.
“Gangguan tersebut kemudian diduga turut memengaruhi fungsi kardiovaskular hingga berkontribusi terhadap kematian Sempurna,” ujar Murlan.
BKSDA Apresiasi Laporan Warga
Murlan menyampaikan duka atas kematian Sempurna. Meski tidak berhasil diselamatkan, ia mengapresiasi masyarakat yang segera melaporkan keberadaan orangutan tersebut.
Menurutnya, kecepatan laporan sangat penting agar satwa liar yang sakit, terluka, maupun terdampak kebakaran hutan dan lahan dapat segera memperoleh penanganan.
“Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa,” ucapnya.
Ia menegaskan, masyarakat memiliki peran penting dalam upaya penyelamatan satwa liar, terutama ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi di sekitar habitat satwa.
“Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas,” imbuh Murlan.
BKSDA Kalimantan Barat juga mengingatkan masyarakat agar tidak menangani sendiri satwa liar yang sakit, terluka, atau terdampak karhutla.
Masyarakat diminta segera menghubungi petugas atau lembaga terkait agar satwa mendapatkan penanganan yang tepat sekaligus meminimalkan risiko terhadap keselamatan satwa maupun manusia. (jpg)
Editor : Slamet Harmoko