NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com — Tim Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Lamandau dibuat kewalahan menghadapi kebakaran di lahan eks persawahan Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalteng.
Kebakaran di kawasan tersebut terus berulang sejak 19 Agustus hingga 28 Agustus 2026, dengan area terbakar lebih dati 27 hektar.
Kondisinya semakin mengkhawatirkan karena api tidak hanya membakar semak dan lahan, tetapi juga menyasar sejumlah fasilitas vital dan area yang memiliki aktivitas masyarakat.
Di sekitar lokasi terdapat gardu induk, Sutet , kebun warga hingga permukiman masyarakat yang berpotensi terdampak jika api meluas.
Lokasi kebakaran juga berada cukup dekat dengan kawasan pabrik kelapa sawit PT KSO. Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman harus dilakukan secara serius dan terus-menerus untuk mencegah api menjalar ke area yang lebih luas.
Persoalan semakin rumit karena lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut. Karakteristik gambut yang menyimpan bara api di bawah permukaan membuat api sulit benar-benar dipadamkan hanya dengan menyiram bagian permukaannya.
Meski api terlihat padam, bara di dalam tanah masih dapat bertahan. Ketika angin bertiup dan kondisi kembali kering, bara tersebut dapat muncul kembali dan memicu kebakaran baru di lokasi yang sama.
Kondisi inilah yang menyebabkan kebakaran terus berulang hampir setiap hari.
Kepala BPBD Kabupaten Lamandau. Hendikel menyatakan, hingga Jumat (28/8), pihaknya masih melakukan penyemprotan dan pendinginan di sejumlah titik.
Penanganan dilakukan secara berkelanjutan karena kebakaran lahan gambut membutuhkan metode berbeda dibandingkan kebakaran di tanah mineral.
“Untuk lahan gambut ini penanganannya berbeda dengan tanah mineral. Saat ini kami masih terus melakukan penyemprotan untuk pendinginan, karena bara api bisa berada di bawah permukaan,” ujarnya.
Salah satu kendala terbesar yang dihadapi tim di lapangan adalah akses menuju titik api. Lokasi kebakaran tidak memiliki akses jalan yang memadai sehingga kendaraan pemadam tidak bisa mendekati seluruh titik yang terbakar.
Jangkauan selang pemadam juga terbatas. Maksimal selang pemadam hanya mampu menjangkau sekitar 700 meter dari sumber air atau posisi kendaraan. Akibatnya, sejumlah titik api yang berada lebih jauh harus ditangani dengan upaya ekstra oleh petugas.
Di sisi lain, intensitas operasi yang berlangsung terus-menerus, baik siang maupun malam, mulai memberikan dampak terhadap peralatan dan kendaraan pemadam.
Sejumlah kendaraan bahkan mulai mengalami overheat akibat dipaksa beroperasi dalam waktu panjang.
Kondisi kebakaran yang berulang selama hampir sepuluh hari tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Satgas Karhutla Lamandau.
Pemadaman tidak cukup hanya dengan mematikan api yang terlihat, tetapi harus memastikan titik-titik panas di dalam lapisan gambut benar-benar berhasil didinginkan.(mex)
Editor : Slamet Harmoko