SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuat sekat bakar di sejumlah lokasi yang dinilai rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah ini dilakukan untuk menghambat pergerakan api sekaligus membantu menyediakan sumber air bagi petugas pemadam.
Salah satu lokasi yang mendapat penanganan berada di Jalan Tjilik Riwut, Sampit. BPBD mengerahkan ekskavator milik Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim untuk mengeruk lahan dan membuat sekat bakar.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan sekat bakar dibuat di kawasan yang mengalami kebakaran berulang dengan durasi cukup panjang.
“Kami mencoba membuat sekat-sekat bakar pada daerah yang intens dan berdurasi panjang terjadinya kebakaran lahan dan hutan,” ujar Multazam, Jumat (28/8).
Pada tahap awal, sekat bakar dibuat sepanjang sekitar satu kilometer. Pengerukan tidak hanya ditujukan sebagai pembatas untuk menghambat penyebaran api, tetapi juga diharapkan membentuk cekungan yang dapat menampung air.
“Ini kurang lebih sekitar satu kilometer. Kami coba per hari ini untuk terus menggerakkan alat ini,” katanya.
Menurut Multazam, metode tersebut dapat diterapkan di lokasi lain apabila hasil pemantauan menunjukkan tingkat kerawanan karhutla yang tinggi. Penentuan lokasi akan mempertimbangkan intensitas kebakaran dan kondisi di lapangan.
“Dimungkinkan dilakukan di lokasi lain, tetapi tentunya nanti kami lihat intensitas kebakarannya. Saat ini ada beberapa titik yang terus kami pantau, sementara pasukan darat masih kami gerakkan terus,” jelasnya.
Selain membuat sekat bakar, ekskavator juga akan dimanfaatkan untuk membuka embung baru serta memperdalam embung lama yang mengering. Upaya ini dilakukan untuk mengatasi keterbatasan sumber air yang menjadi salah satu kendala dalam pemadaman karhutla melalui jalur darat.
“Nanti kami juga akan melakukan pembukaan embung-embung baru atau pendalaman embung-embung yang sudah lama, yang sekarang posisinya sudah kering,” pungkas Multazam.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat penanganan karhutla, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kejadian kebakaran tinggi dan minim sumber air. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko