Pernah Merasakan Situasi Dikepung Api
SAMPIT – Di tengah kepungan asap dan panasnya medan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sosok Adam Andrean memilih bergabung dengan para relawan yang berjibaku di lapangan.
Usianya masih belia. Namun kepeduliannya terhadap sesama telah membawanya terlibat dalam kegiatan kemanusiaan sejak awal Juli 2026.Adam mungkin belum memiliki banyak pengalaman hidup. Namun dari medan karhutla, ia belajar tentang kepedulian, keberanian, dan arti membantu sesama.
Pelajar kelas VIII SMPN 1 Sampit itu merupakan bagian dari Relawan Dompet Peduli. Ketertarikannya menjadi relawan bermula dari kebiasaannya melihat rekan-rekan Dompet Peduli turun langsung merespons berbagai kejadian karhutla. Dari situlah tumbuh keinginan Adam untuk ikut membantu.
“Adam sangat ingin membantu memadamkan kebakaran. Biasanya bantu rekan-rekan mengangkat selang ataupun mesin,” tuturnya saat dibincangi Radar Sampit.
Ketika tidak ada kegiatan sekolah atau sedang libur, Adam kerap menghabiskan waktu bersama para relawan. Ia bukan petugas utama yang berada di garis depan menghadapi kobaran api, melainkan mengambil peran sesuai kemampuan dan arahan orang dewasa di lapangan.
Baca Juga: Peduli dan Terlibat Pemadaman Karhutla, Superman Diberi Motor
Mengangkat selang, membantu membawa mesin, hingga memastikan perlengkapan kembali ke kendaraan menjadi bagian dari aktivitasnya. Peran-peran kecil itu mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat berarti bagi tim yang bekerja berjam-jam di tengah panas dan asap.
Namun, aktivitas di lokasi karhutla tetap bukan tanpa risiko. Adam mengaku pernah mengalami situasi menegangkan saat bertugas bersama para relawan. Dalam salah satu kejadian, ia sempat berada dalam kondisi terkepung api sebelum akhirnya berhasil keluar dengan selamat.
“Adam pernah terkepung oleh api dan untungnya saat itu Tuhan masih sayang sama Adam,” kenangnya.
Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti membantu. Meski begitu, Adam tetap menjalankan perannya ketika berada di bawah pengawasan relawan dewasa dan di luar waktu sekolah.
Baginya, ada kepuasan tersendiri ketika bisa ikut meringankan beban warga yang tengah menghadapi musibah. Rasa lelah setelah berjam-jam di lapangan pun seolah terbayar ketika tugas selesai.
Ia pernah membantu mengangkat kembali mesin pemadam ke dalam mobil meski tubuhnya sudah terasa lelah. Namun setelah seluruh pekerjaan rampung, yang tersisa justru rasa senang karena telah ikut memberikan bantuan.
“Yang Adam rasakan saat selesai memadamkan api adalah Adam merasa senang telah membantu warga yang terkena musibah,” katanya.
Kegiatan sosial Adam juga diketahui oleh guru dan teman-temannya di sekolah. Orang tuanya pada awalnya sempat tidak memberikan izin karena khawatir aktivitas sebagai relawan dapat mengganggu pendidikan dan keselamatannya.
Seiring waktu, mereka akhirnya memberikan izin, dengan satu syara, sekolah tetap menjadi prioritas utama.
Kekhawatiran keluarga pun bukan tanpa alasan. Pernah ketika Adam ikut bersama relawan menangani karhutla di kawasan Taman Kota Sampit, keluarganya sempat diliputi kecemasan. Namun, Adam tetap berusaha menjalankan perannya sebagai relawan pada waktu-waktu tertentu, tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar.
Pengalaman menjadi relawan ternyata belum membuat Adam memiliki cita-cita khusus. Ia mengaku hanya ingin terus mencari pengalaman dan belajar dari setiap kegiatan yang diikutinya.“Tidak ada, cuma saya ingin mencari pengalaman yang lebih banyak saja,” cetus Adam.
Di balik keberaniannya, Adam menyimpan kesedihan setiap kali melihat hutan dan lahan terbakar. Baginya, situasi itu juga musibah yang berdampak luas bagi banyak orang. Termasuk memburuknya kualitas udara yang harus dihirup masyarakat.
Bocah ini pun berharap karhutla yang melanda Kotim segera berakhir. Ia ingin masyarakat kembali menikmati udara segar tanpa kabut asap yang selama ini menyelimuti wilayah tersebut.
“Mari kita bersama-sama menjaga hutan dan lahan kita. Semoga api cepat padam dan udara kita kembali segar. Tidak ada lagi kabut asap menyelimuti Kabupaten Kotim,” pungkasnya.(yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama