Siswi 13 Tahun Diduga Dicabuli Kakek Sendiri hingga Melahirkan, Pelaku Kabur!

Fahry Ilhami Samosir • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:32 WIB
ilustrasi asusila/Jawa Pos Radar Kediri
ilustrasi asusila/Jawa Pos Radar Kediri

 

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak terjadi lagi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Mirisnya, korban merupakan anak perempuan berusia 13 tahun yang diduga dicabuli pria yang masih memiliki hubungan keluarga.

Akibat perbuatan pelaku tersebut, korban kini telah melahirkan seorang bayi laki-laki.

Keluarga korban, SA menuturkan, terduga pelaku disebut merupakan kakek korban. Saat dugaan kekerasan seksual terjadi, pria tersebut masih berusia 27 tahun dan berstatus bujangan.

“Masih keluarga. Pelakunya kakeknya. Jadi datuknya korban dan datuknya pelaku ini bersaudara. Cucunya yang dihamilinya,” ujar SA.

Baca Juga: Disdik Palangka Raya Tekankan PAUD sebagai Fondasi Tumbuh Kembang Anak

Dugaan pencabulan itu disebut terjadi saat korban sedang menikmati libur sekolah. Terduga pelaku diketahui sempat mengantar korban dari satu desa ke desa lainnya di dua kecamatan di Kotim. Keduanya juga disebut sempat tinggal dalam satu rumah.

Menurut SA, dugaan hubungan seksual pertama kali terjadi pada November 2025. Kehamilan korban kemudian terungkap setelah pihak sekolah melakukan pemeriksaan terhadap para siswinya.

“Awalnya dia sekolah. Di sekolah diadakan tes kehamilan anak-anak itu. Ketahuan baru di situ,” tuturnya.

Saat kehamilan diketahui, usia kandungan korban disebut telah mencapai sekitar delapan bulan. Korban kemudian mendapat penanganan dari pihak terkait dan akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki sekitar sepekan sebelum keterangan tersebut disampaikan.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Terlihat Latihan Bersama Marc Marquez Jelang Moto3 di Aragon

“Sudah ada delapan bulan saat ketahuan. Kemarin habis diantar ke PPA Sampit, lalu melahirkan bulan ini,” katanya.

SA mengatakan, korban mengungkapkan bahwa pria yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadapnya merupakan kakeknya. Terduga pelaku juga disebut sempat memberikan pengakuan secara lisan kepada Ketua setempat dan mantir adat di salah satu desa di Kotim.

“(Pelaku) sudah mengaku, ada pengakuannya. Pengakuan lisan terhadap RT setempat,” ungkapnya.

Kasus tersebut kemudian dilaporkan keluarga korban kepada pihak terkait melalui PPA sekitar Juli 2026. Namun, menurut SA, proses penanganan baru berlanjut dengan pemanggilan terhadap terduga pelaku pada Kamis (20/8/2026).

Baca Juga: Bupati Temui Kapolres Baru, Bahas Persoalan BBM di Lamandau

Terduga pelaku sempat hendak dibawa ke Sampit untuk menjalani pemeriksaan. Namun, pria tersebut diduga melarikan diri sebelum tiba di Polres Kotim pada Jumat (21/8/2026) pagi.

SA menyebut terduga pelaku kabur dari sebuah rumah di Sampit bersama istrinya saat keluarga hendak membawanya menjalani pemeriksaan.

“Pagi lalu kami sampai Sampit sekitar jam empat. Kami keluar sebentar, dia kabur dari rumah di Sampit, belum sampai Polres,” bebernya.

Baca Juga: DPRD Kotawaringin Barat Tutup Masa Sidang III, Tiga Fungsi Kelembagaan Berjalan Maksimal   

Hingga saat ini, terduga pelaku disebut belum berhasil diamankan. Ia juga belum memberikan keterangan resmi kepada penyidik terkait perkara tersebut.

“Belum tertangkap. Jangankan tertangkap, memberi kesaksian pertama saja belum,” katanya.

Kejadian tersebut membuat keluarga korban terpukul. SA mengatakan, ibu korban bahkan sempat pingsan ketika mengetahui anaknya hamil.

Korban yang baru duduk di kelas I SMP juga disebut tidak dapat melanjutkan sekolah untuk sementara setelah melahirkan.

Baca Juga: Sepeda Low Rider ala "GTA" Curi Perhatian Peserta Gowes Kemerdekaan Bersama Radar Sampit 2026

“Mana bisa sekolah, sudah melahirkan. Baru masuk kelas 1 SMP,” ujar SA.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena korban masih di bawah umur dan diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh orang yang memiliki hubungan keluarga dengannya.

Penanganan perkara dan perlindungan terhadap korban diharapkan dilakukan secara menyeluruh, termasuk memastikan kondisi kesehatan serta masa depan pendidikan korban. (sir/fm)

Editor : Farid Mahliyannor
kakek cabuli cucu sisiw smp predator anak asusila