SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah mendorong masyarakat untuk melakukan berbagai ikhtiar, termasuk secara spiritual dengan melaksanakan salat Istisqa.
Salat sunnah tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan dan memberikan keberkahan bagi makhluk hidup.
Secara bahasa, Istisqa berarti meminta curahan air penghidupan atau thalab al-saqaya. Dalam fikih, salat Istisqa didefinisikan sebagai salat sunnah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.
Salat Istisqa bukan ibadah yang baru dilakukan umat Islam. Rasulullah SAW juga pernah melaksanakannya ketika terjadi kekeringan.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW keluar untuk memohon hujan, kemudian melaksanakan salat dua rakaat tanpa azan dan iqamah. Setelah itu, beliau menyampaikan khutbah dan berdoa kepada Allah SWT dengan menghadap kiblat serta mengangkat kedua tangan.
Dilaksanakan pada Siang Hari
Salat Istisqa dilaksanakan pada siang hari. Waktunya dimulai setelah matahari terbit dan meninggi, seperti waktu pelaksanaan salat Idulfitri atau Iduladha.
Para ulama berpendapat salat Istisqa dapat dilaksanakan hingga sore hari, selama tidak bertepatan dengan waktu yang dilarang untuk melaksanakan salat, yakni ketika matahari tepat berada di atas kepala dan saat menjelang terbenam.
Pelaksanaannya dilakukan secara berjamaah di tanah lapang. Salat ini tidak didahului azan maupun iqamah.
Tata Cara Salat Istisqa
Secara umum, tata cara salat Istisqa dilakukan dalam dua rakaat. Jamaah terlebih dahulu berkumpul di tempat yang telah ditentukan, kemudian berniat melaksanakan salat Istisqa.
Niat yang dapat dibaca:
Ushalli sunnatal istisqaa'i rak'ataini mustaqbilal qiblati imaaman/makmuman lillaahi ta'aalaa.
Setelah takbiratul ihram, imam dan makmum melakukan takbir tambahan sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua.
Pada masing-masing rakaat, imam membaca Surah Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah lainnya secara jahr atau suara yang dapat didengar jamaah. Setelah itu, rangkaian salat dilanjutkan seperti salat pada umumnya hingga rakaat kedua.
Pada rakaat kedua, setelah sujud, jamaah duduk untuk membaca tahiyat akhir, tasyahud dan selawat, kemudian diakhiri dengan salam.
Setelah salat selesai, imam menyampaikan dua khutbah. Tata cara khutbah pada salat Istisqa pada dasarnya menyerupai khutbah salat Id, termasuk adanya takbir pada awal khutbah.
Dalam khutbah tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak taubat, memohon ampun kepada Allah SWT, serta memperbanyak istighfar. Hal itu menjadi bagian dari ikhtiar agar Allah SWT memberikan pertolongan berupa turunnya hujan.
Memperbanyak Istighfar dan Berdoa
Pada akhir khutbah, khatib dianjurkan memperbanyak doa untuk memohon turunnya hujan. Khatib juga dapat menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya ketika berdoa.
Di antara doa yang pernah dibaca Rasulullah SAW ketika memohon hujan adalah:
اللهم اسقنا، اللهم اسقنا، اللهم اسقنا
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
Doa lainnya:
اللهم اسق عبادك، وبهائمك، وانشر رحمتك، وأحيي بلدك الميت
Artinya: “Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah mati.”
Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar umat Islam ketika menghadapi kekeringan. Selain memohon hujan, momentum tersebut juga menjadi pengingat agar masyarakat memperbanyak introspeksi, taubat, istighfar, serta menjaga lingkungan.
Semoga kemarau panjang segera berakhir dan hujan yang membawa manfaat turun di berbagai wilayah, sehingga masyarakat terhindar dari dampak kekeringan maupun bencana yang menyertainya. Aamiin.
Editor : Slamet Harmoko