Sumber Air Mengering, Karhutla di Wilayah Kotim masih Menyala

Rado. • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:16 WIB
Penanganan karhutla oleh tim gabungan di salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) belum lama tadi. (istimewa/dok.radarsampit)
Penanganan karhutla oleh tim gabungan di salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) belum lama tadi. (istimewa/dok.radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Kekeringan dan krisis air bersih telah dirasakan sebagian masyarakat di Kabupaten Kotawaringin (Kotim) terutama yang selama ini mengandalkan sumber air tanah dan dari aliran sungai.

Bukan itu saja, banyaknya sumber air yang mengering, juga semakin mempersulit pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang masih terus terjadi silih berganti di sejumlah wilayah kecamatan.

Haryadi, salah satu warga Kecamatan Cempaga, mengatakan dampak kekeringan mulai dirasakan mereka. Sumur yang selama ini menjadi sumber utama air untuk kebutuhan mandi dan mencuci mulai mengering.

"Kesulitan air bersih ini bukan hanya di wilayah selatan. Dari Cempaga sampai daerah utara juga mulai terasa. Sumur-sumur yang selama ini kami andalkan untuk mandi dan mencuci sekarang mulai kering," ujarnya kepada Radar Sampit.

Menurutnya, sebagian warga bahkan terpaksa turun ke Sungai Cempaga untuk memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci. "Kami terpaksa turun ke sungai untuk mandi dan mencuci. Sebenarnya ada rasa takut, karena buaya sering muncul. Tapi mau bagaimana lagi, sumur sudah mulai tidak ada air," keluh Haryadi.

Diharapkannya situasi itu segera mendapat perhatian pemerintah, terutama jika hujan belum juga turun dalam waktu dekat. Menurutnya, masyarakat membutuhkan sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, kami khawatir air semakin sulit. Bukan hanya untuk memadamkan api, kebutuhan sehari-hari masyarakat juga bisa terganggu," cetus Haryadi.

Diungkapkannya, kondisi lahan saat ini semakin kering. Terutama di kawasan gambut, kondisi tersebut membuat potensi kebakaran meningkat."Lahan masyarakat sudah banyak yang kering. Sumur dengan kedalaman sekitar tiga meter saja sudah tidak ada airnya,” tambah Haryadi.

Baca Juga: Kekeringan Meluas di Kotim, Distribusi Air Bersih Makin Gencar Dilakukan

Sebelumnya, Bupati Kotim Halikinnor, telah meminta seluruh camat dan kepala desa meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak kekeringan dan potensi karhutla. Ia menegaskan, pemerintah desa tidak boleh menunggu api membesar untuk bertindak. Setiap karhutla yang muncul di wilayah desa harus segera ditangani dengan peralatan yang tersedia.

Selain peralatan, persoalan sumber air juga menjadi perhatian utama. Halikinnor meminta pemerintah desa memetakan lokasi yang masih memiliki potensi sumber air untuk dibuat embung atau tempat penampungan.

"Petakan titik-titik yang bisa dibuat embung air. Ini untuk mengantisipasi kalau nanti ada titik api. Jangan sampai ketika kebakaran terjadi kita baru mencari sumber air,. Sejauh ini belum ada tanda-tanda hujan. Kita harus mengantisipasi kekeringan dan kesulitan air untuk memadamkan api. Jangan sampai air untuk masyarakat saja sulit, kemudian ketika terjadi kebakaran kita juga kesulitan mendapatkan air," papar Halikinnor.

Sementara itu, kekeringan ekstrem di wilayah Desa Lampuyang Kecamatan Teluk Sampit, memaksa tim satgas gabungan penanganan karhutla harus memutar otak.

Kondisi itu dirasakan saat Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain bersama tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta tim Manggal Agni, Sabtu (15/8).

Di lokasi kebakaran lahan, tim gabungan dihadapkan pada realitas yang sangat sulit. Akses menuju lokasi terpantau ekstrem dan berbahaya. Selain itu, seluruh parit dan kantong air di sekitar area tersebut sudah mengering total. Akibat ketiadaan sumber air ini, petugas di lapangan sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas penyemprotan atau pemadaman api secara konvensional.

Merespons kendala krusial tersebut,tim gabungan itu pun mengambil langkah taktis, agar kebakaran tidak meluas ke area perkebunan warga.

"Kondisi di lapangan saat ini tidak memungkinkan dilakukannya aktivitas pemadaman karena sumber air sama sekali tidak ada dan kering total. Meski demikian, personel gabungan dari Polri, BPBD, dan Manggala Agni tidak tinggal diam. Kami mengalihkan fokus pada aktivitas pemantauan arah angin, pemetaan wilayah, serta koordinasi taktis untuk memutus jalur api (sekat bakar) secara manual, agar tidak meluas ke area pemukiman atau lahan produktif lainnya," terang AKBP Resky Maulana Zulkarnain, yang dirilis Humas Polres Kotim.

Selain itu, pihaknya terus mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat. Warga diingatkan keras untuk tidak melakukan pembersihan lahan dengan metode membakar. (ang/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
pemadaman kebakaran Kecamatan Teluk Sampit Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain karhutla desa lampuyang