SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menjadi perhatian. Hingga 14 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 496,8439 hektare dari 302 kejadian.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan penanganan saat ini diprioritaskan pada wilayah yang mengalami kebakaran dengan luasan cukup besar serta memiliki potensi meluas.
“Ada lima kecamatan yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla berskala besar, yaitu Teluk Sampit, Kota Besi, Seranau, Baamang dan Mentawa Baru Ketapang,” kata Multazam, Minggu (16/8/2026).
Dari lima wilayah tersebut, Mentawa Baru Ketapang mencatat luasan lahan terbakar terbesar. Totalnya mencapai 136,3595 hektare dari 111 kejadian.
Baamang berada di urutan berikutnya dengan 107,61135 hektare dari 131 kejadian. Sementara Kota Besi mencatat 33,615 hektare dari 14 kejadian, Teluk Sampit 13,3 hektare dari sejumlah kejadian, dan Seranau 3,5 hektare.
Namun, perhatian terhadap karhutla tidak hanya didasarkan pada luas lahan terbakar. Jumlah hotspot juga menjadi indikator yang terus dipantau.
Hingga 14 Agustus, BPBD mencatat terdapat 2.707 hotspot di seluruh Kotim.
Kota Besi menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 512 titik. Berikutnya Teluk Sampit 451 titik, Seranau 296 titik, Mentaya Hilir Utara 289 titik, Mentawa Baru Ketapang 262 titik dan Baamang 230 titik.
Data tersebut menunjukkan jumlah hotspot tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan terbakar. Pulau Hanaut, misalnya, tercatat memiliki empat kejadian, tetapi luas lahan yang terbakar mencapai 82,65 hektare.
Parenggean juga demikian. Hanya terdapat lima kejadian, tetapi luas lahan terbakar mencapai 58,5 hektare.
Karena itu, pemantauan lapangan tetap menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Data hotspot dari satelit menjadi salah satu bahan pemantauan, sedangkan kondisi kebakaran dan luas terdampak perlu diperbarui berdasarkan perkembangan serta verifikasi di lapangan.
Multazam mengatakan perkembangan di wilayah rawan terus dipantau untuk mengantisipasi munculnya titik api baru maupun mencegah kebakaran yang sudah terjadi agar tidak meluas.
“Penanganan terus menjadi perhatian, khususnya pada wilayah dengan kebakaran berskala besar, sehingga perkembangan di lapangan terus dipantau,” ujarnya.
Di sisi lain, kondisi cuaca masih menjadi tantangan. Berdasarkan prakiraan Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim, potensi pertumbuhan awan hujan pada 16 hingga 17 Agustus 2026 secara umum diprakirakan rendah atau tidak signifikan.
Meski hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, kondisi kering tetap perlu diwaspadai. Terlebih, luas lahan terbakar di Kotim kini sudah mendekati 500 hektare.
BPBD terus memperbarui data kejadian dan luasan karhutla berdasarkan pemantauan serta verifikasi lapangan. Dengan demikian, angka tersebut masih dapat berubah seiring masuknya data terbaru. (oes)
Editor : Slamet Harmoko