SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Harapan turunnya hujan untuk membantu meredam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur belum juga terlihat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca di wilayah tersebut selama 24 jam ke depan hanya didominasi cuaca berawan.
Berdasarkan informasi prakiraan akumulasi curah hujan yang dirilis Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur, periode 4 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB hingga 5 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB diperkirakan hanya berawan berdasarkan data model prediksi cuaca numerik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hingga kini titik panas masih terus bermunculan di berbagai wilayah Kotawaringin Timur.
Data rekapitulasi hotspot BMKG yang diakses pada Selasa (4/8/2026) pukul 07.00 WIB mencatat terdapat 62 hotspot dalam 24 jam terakhir. Sebaran titik panas paling banyak terpantau di Kecamatan Kota Besi, Parenggean, Cempaga Hulu, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Mentaya Hilir Utara, Teluk Sampit, Seranau, Telawang, Telaga Antang, Mentaya Hulu, hingga Antang Kalang.
Tidak hanya itu, analisis parameter cuaca BMKG juga menunjukkan hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah berada pada kategori sangat mudah terbakar untuk 4 hingga 5 Agustus 2026.
Kondisi tersebut mengindikasikan vegetasi dan lahan, terutama kawasan gambut, masih sangat rentan memicu kebakaran apabila terdapat sumber api.
Meski demikian, prakiraan BMKG belum menunjukkan peluang hujan yang cukup berarti untuk membantu proses pembasahan lahan secara alami.
Situasi ini membuat upaya penanganan karhutla masih sangat bergantung pada pemadaman di lapangan serta dukungan operasi udara, mengingat cuaca belum memberikan kondisi yang mendukung untuk menekan potensi munculnya titik api baru.
Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dengan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar sampah maupun membuka lahan dengan api. Di tengah kondisi cuaca yang masih kering dan minim potensi hujan, satu titik api berisiko berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (oes)
Editor : Slamet Harmoko