SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Kali ini, api membakar lahan gambut seluas sekitar tiga hektare di kawasan Jalan Amin Klaru, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kamis (30/7/2026 ). Proses pemadaman berlangsung hampir empat jam dengan menghabiskan sekitar 122 ribu liter air.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Multazam mengatakan, laporan kebakaran diterima melalui grup koordinasi BPBD sekitar pukul 12.27 WIB. Tim Posko Karhutla kemudian bergerak menuju lokasi dan tiba sekitar pukul 13.15 WIB.
"Tim langsung melakukan pemadaman dan pendinginan agar api tidak meluas. Operasi berakhir sekitar pukul 17.10 WIB," ujar Multazam, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan, dari total lahan yang terbakar sekitar tiga hektare, petugas berhasil melakukan pemadaman pada area sekitar dua hektare. Hingga operasi dihentikan, kondisi api telah padam, namun masih ditemukan kepulan asap di beberapa titik sehingga tetap memerlukan pemantauan.
Menurut Multazam, lokasi kebakaran didominasi semak belukar yang berada di kawasan kebun sawit dengan jenis tanah gambut. Tipe kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran gambut bagian atas, sehingga membutuhkan proses pendinginan secara menyeluruh untuk mencegah api muncul kembali.
"Kendala di lapangan, jalur api memutari semak belukar sehingga petugas harus membuka akses pemadaman di beberapa sisi," katanya.
Sumber air untuk pemadaman diambil dari Sungai Amin Klaru yang berjarak sekitar 300 meter dari titik api. Air dialirkan menggunakan 16 rol selang dengan dukungan dua mesin pompa (alkon), dua nozzle, satu kendaraan roda tiga, satu mobil pikap, serta empat sepeda motor operasional.
Sebanyak tujuh personel inti BPBD diterjunkan ke lokasi bersama unsur TNI dan Polri. Operasi juga diperkuat personel tambahan dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kelurahan Ketapang, Palang Merah Indonesia (PMI), serta masyarakat setempat.
Multazam mengatakan, kebakaran lahan gambut memerlukan penanganan lebih intensif dibanding lahan mineral karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
"Kami terus melakukan pendinginan agar bara benar-benar padam dan tidak memicu kebakaran kembali," ujarnya.
Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun selama musim kemarau. Selain berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, api di lahan gambut sangat sulit dipadamkan dan membutuhkan sumber daya yang besar.
Saat ini Kabupaten Kotawaringin Timur juga telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan, sehingga seluruh unsur penanganan bencana terus disiagakan untuk mengantisipasi meningkatnya kejadian kebakaran selama musim kemarau. (oes)
Editor : Slamet Harmoko