PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Gempuran kebakaran lahan (karhutla) yang terus terjadi di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng), membuat aparat gabungan terus berjibaku berusaha memadamkan api, agar tidak makin meluas.
Di Palangka Raya, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Minggu (26/7), tercatat 104 kejadian karhutla telah terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan hari-hari biasa dengan total luasan lahan terbakar mencapai 53,81 hektare.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, mengatakan kawasan yang paling banyak terdampak berada di Kecamatan Jekan Raya, Pahandut, Sebangau, dan Bukit Batu. Sementara Kecamatan Rakumpit hingga kini masih tercatat nihil kejadian karhutla.
"Kondisi ini harus terus diwaspadai oleh seluruh masyarakat," ujarnya.
Sejumlah lokasi yang dilaporkan mengalami kebakaran antara lain Jalan Tjilik Riwut, Jalan Kranggan, Tabat Kalasa, Jalan Trans Kalimantan, Jalan Yos Sudarso hingga kawasan Damang Gustaf Erang.
Salah satu kebakaran melanda lahan kosong di Jalan Yos Sudarso XVIII. Ketua BPK Kamboja, Sucipto, mengatakan pihaknya menerima laporan adanya kebakaran lahan dan langsung bergerak bersama tim gabungan.Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 x 50 meter.
Baca Juga: Mayoritas Kebakaran Lahan di Palangka Raya Akibat Disengaja
"Penyebab kebakaran belum diketahui. Berkat laporan yang cepat dari masyarakat, api tidak sempat meluas dan berhasil dipadamkan sekitar satu jam kemudian," ujarnya.
Disisi lain, Upaya penanganan karhutla juga dilakukan Kepolisian Resor Kota (Polresta) Palangka Raya melalui Satgas Aman Nusa II. Tim diterjunkan memadamkan kebakaran di wilayah Kelurahan Petuk Katimpun, Kecamatan Jekan Raya.
Kabagops Polresta Palangka Raya, Kompol Henry, mengatakan pemadaman dilakukan bersama personel Manggala Agni menggunakan dua unit mesin pompa air dan alat pemukul api. "Pemadaman dilakukan secara manual. Hot spot yang kami tangani memiliki luas sekitar delapan hektare," katanya.
Menurut Henry, proses pemadaman cukup sulit karena api telah membakar lapisan gambut sehingga terus menyala di bawah permukaan tanah. Kondisi diperparah oleh semak belukar yang mengering akibat kemarau.
Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol. Dedy Supriadi juga mengungkapkan, pihaknya mengerahkan personel bersama Ditsamapta Polda Kalteng dan Manggala Agni untuk menangani kebakaran di lokasi lain dengan luas titik panas mencapai sekitar 10 hektare.
"Setiap informasi yang diterima akan segera kami tindak lanjuti bersama unsur terkait agar kebakaran dapat segera dipadamkan dan tidak meluas, sehingga dampaknya terhadap lingkungan maupun aktivitas masyarakat dapat diminimalisir," imbuhnya.
Di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), , sepanjang tahun 2026 saja terdapat sebanyak 92 kali karhutla dengan luasan yang terbakar mencapai 147,478 hektar, dan terbanyak terjadi di bulan Juli 2026, dengan 44 kali kejadian, menyasar lahan seluas 49,168 hektar.
Kasatreskrim Polres Kobar IPTU Gusti M Rifa Adabi menegaskan, hingga saat ini pihaknya belum ada menetapkan tersangka pelaku pembakaran hutan dan lahan di wilayahnya.
"Sampai sekarang masih belum ada, dan kita masih belum menemukan lahan yang sengaja dibakar," tegasnya.
Menurutnya, karhutla di Kobar terjadi lebih karena faktor cuaca yang panas, terlebih dari pantauan jumlah hotspot di wilayah setempat,jumlahnya masih terbilang rendah dibandingkan dengan wilayah lain di Kalteng.
Kepala Bidang BPBD Kobar Andan Santana mengatakan, musim kemarau yang masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, dan masih berpotensi terjadinya Karhutla. Mereka pun terus mensiagakan tim reaksi cepat.
"Dengan intensitas yang meningkat, kita siaga penuh di Mako Damkar, sewaktu-waktu terjadi Karhutla kita langsung meluncur ke lokasi untuk penanganan," cetusnya.
Sementara itu di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), karhutla belum juga mereda, bahkan berpotensi meluas.
Seperti pada Minggu (26/7) siang, api membakar lahan kosong di Desa Sebabi, Kecamatan Telawang. Tepatnya di Jalan An Jahro. Petugas Pos Sektor Telawang menerima laporan dari Camat Telawang dan Polsek Telawang pada pukul 13.20 WIB. Lokasi hanya berjarak sekitar satu kilometer dari pos.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim Heri Wahyudi mengungkapkan, api berhasil dikendalikan sehingga tidak sempat meluas.
Dalam operasi tersebut, satu unit mobil tangki pemadam dikerahkan bersama tiga personel Pos Sektor Telawang, yakni Rusdiansyah, Samsul Arifin, dan Haris Padilah.
Diungkapkannya, lahan kosong yang terbakar itu dengan luas sekitar 10 x 20 meter. Dugaan sementara penyebab kebakaran mengarah pada unsur kesengajaan atau arson. Selama proses penanganan, petugas juga mendapat dukungan dari staf Kecamatan
Masih di Kotim, pada Jumat (24/7) sore, Polres Kotim juga turut memadamkan kebakaran lahan di Jalan Tjilik Riwut Kecamatan Baamang, melalui operasi Kontingensi Aman Nusa II-A 2026, bersama petugas BPBD setempat.
Kondisi lahan yang didominasi tanah gambut dan semak belukar membuat api berpotensi cepat menjalar..
Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain turut memadamkan kebakaran lahan tersebut, didampingi Kabag Ops Polres Kotim Kompol Yuan Irsyady, serta Kepala BPBD Kotim Multazam.
Sejumlah pejabat utama dan personel Polres Kotim bersama petugas BPBD bahu-membahu menjinakkan api. Dengan peralatan yang tersedia, tim bergerak cepat melakukan pemadaman hingga api berhasil dikendalikan.
Kapolres menyatakan, penanganan karhutla membutuhkan kecepatan dan sinergi lintas instansi. Setiap keterlambatan dapat membuat api semakin sulit dikendalikan, terutama di lahan yang dipenuhi semak belukar dan memiliki potensi penyebaran api.
"Kami tidak ingin menunggu api membesar. Begitu ada informasi kebakaran, personel langsung bergerak bersama BPBD untuk melakukan pemadaman. Kecepatan penanganan menjadi kunci agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar," tegas Resky.
Menurutnya, dalam Operasi Kontingensi Aman Nusa II-A 2026 ini, pihaknya tidak hanya fokus pada pengamanan. Pihaknya hadir dan bersinergi dengan BPBD maupun instansi terkait lainnya untuk menangani.
Selain itu masyarakat juga terus diminta tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan. Selain berpotensi meluas dan mengganggu kesehatan, pembakaran lahan dapat berujung pada proses hukum.
"Pencegahan harus dilakukan bersama. Kami mengajak masyarakat untuk segera melaporkan apabila melihat adanya titik api atau kebakaran lahan. Jangan sampai api sudah meluas baru dilakukan penanganan," pungkas Resky Maulana Zulkarnain.(daq/tyo/oes/sir/gus)
)
Editor : Agus Jaka Purnama