SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Harapan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk segera diguyur hujan tampaknya masih harus ditunda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit memprediksi kondisi kemarau masih akan bertahan hingga pertengahan Agustus 2026.
Prediksi tersebut terlihat dari peta prakiraan curah hujan probabilistik yang dirilis BMKG. Pada Dasarian III Juli (21-31 Juli), Dasarian I Agustus (1-10 Agustus), hingga Dasarian II Agustus (11-20 Agustus), hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, berada pada kategori peluang curah hujan lebih dari 100 milimeter yang sangat rendah.
Baca Juga: Simalakama di Kotim: Ketika Setetes Air Harus Dipilih, Buat Padamkan Api atau Sambung Nyawa Warga?
Kondisi itu mengindikasikan hujan dengan intensitas tinggi berpotensi kecil terjadi dalam beberapa pekan ke depan, sehingga musim kering diperkirakan masih mendominasi.
Sejalan dengan minimnya peluang hujan, BMKG juga merilis analisis potensi kemudahan terjadinya kebakaran yang menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah masuk kategori "Sangat Mudah Terbakar" untuk periode 26 hingga 27 Juli 2026.
Artinya, vegetasi dan lahan, terutama kawasan gambut yang mulai mengering, sangat rentan terbakar apabila terdapat sumber api, baik akibat aktivitas manusia maupun faktor lainnya.
Situasi tersebut diperkuat dengan terus bermunculannya titik panas (hotspot) di Kotim. Berdasarkan pembaruan data BMKG yang diakses pada Sabtu (26/7/2026) pukul 07.00 WIB, terdeteksi 12 hotspot tersebar di sejumlah kecamatan.
Titik panas tersebut berada di Kecamatan Teluk Sampit, Kota Besi, Telawang, Mentaya Hulu, Telaga Antang, dan Antang Kalang.
Beberapa hotspot bahkan memiliki tingkat kepercayaan (confidence level) tinggi, yakni mencapai level 8 hingga 9, sehingga berpotensi kuat mengindikasikan adanya kebakaran di lapangan.
Kondisi cuaca yang masih kering ini juga sejalan dengan perkembangan penanganan karhutla di Kotim.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, hingga 23 Juli 2026 telah tercatat 559 hotspot, 93 kejadian kebakaran hutan dan lahan, dengan 106 kali penanganan. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 192 hektare.
Kabut asap tipis juga mulai terlihat menyelimuti Kota Sampit dalam beberapa hari terakhir.
Meski belum mengganggu aktivitas secara signifikan, kondisi tersebut menjadi sinyal awal meningkatnya dampak musim kemarau.
Melihat kondisi itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun.
Baca Juga: Tangkal Malaria Impor, Puluhan ABK di Pelabuhan Kumai Jalani Rapid Test
Dengan peluang hujan yang masih rendah dan tingkat kemudahan kebakaran yang tinggi, setiap percikan api berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar apabila tidak segera ditangani.
Musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya hingga pertengahan Agustus. Karena itu, upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling penting untuk menekan bertambahnya kebakaran hutan dan lahan serta mencegah kabut asap semakin meluas di Bumi Habaring Hurung. (oes)
Editor : Slamet Harmoko