Kobar Masih Membara! Sudah 113 Hektare Lahan Ludes Terbakar

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 08:35 WIB
KEBAKARAN LAHAN: BPBD Kabupaten Kotawaringin Barat saat penanganan Karhutla di Desa Purbasari, Kecamatan Pangkalan Lada, Kamis (23/07/2026) malam pukul 20.30 WIB. FOTO: BPBD KOBAR/RADAR SAMPIT
KEBAKARAN LAHAN: BPBD Kabupaten Kotawaringin Barat saat penanganan Karhutla di Desa Purbasari, Kecamatan Pangkalan Lada, Kamis (23/07/2026) malam pukul 20.30 WIB. FOTO: BPBD KOBAR/RADAR SAMPIT

 

PANGKALAN BUN – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar mencatat sebanyak 111 kejadian Karhutla terjadi sepanjang Januari hingga Juli 2026 dengan total lahan yang terbakar mencapai 113 hektare.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Kobar, Andan Santana, mengatakan kebakaran tersebut tersebar di enam kecamatan. Kecamatan Arut Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 59 kali, disusul Kecamatan Kumai 39 kali.

Baca Juga: Jelang 17 Agustus, Pedagang Bendera Merah Putih Mulai Ramai di Sampit

Kotawaringin Lama sembilan kali, Pangkalan Banteng tiga kali, serta Arut Utara dan Pangkalan Lada masing-masing satu kali.

"Karhutla yang tercatat terjadi di enam kecamatan. Hingga saat ini Kecamatan Pangkalan Lada dan Arut Utara masing-masing satu kasus karhutla," ujarnya, Jumat (24/07/2026).

Menurut Andan, jumlah kejadian maupun luasan lahan yang terbakar berpotensi terus bertambah karena kebakaran masih terjadi hampir setiap hari. Kondisi cuaca yang panas serta masih adanya aktivitas pembakaran sampah oleh masyarakat menjadi faktor utama penyebab Karhutla.

Baca Juga: Rumah Jadi Sarang Narkoba, Bandar Sabu Tumbang Sangai Dibekuk Polisi

Sementara itu, Stasiun Meteorologi Bandara Iskandar Pangkalan Bun mencatat suhu udara di Kobar telah menembus lebih dari 36 derajat Celsius. Cuaca panas tersebut juga diikuti meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) yang hingga akhir Juli mencapai 85 titik sejak awal tahun.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Bandara Iskandar, Ayu Istiqomah, menjelaskan Kobar saat ini tengah memasuki musim kemarau yang diperkuat oleh aktifnya Monsun Australia.

Kondisi tersebut membawa massa udara kering sehingga curah hujan berkurang dan kelembapan udara di lapisan atas berada di bawah 50 persen.

Baca Juga: Petaka Berdarah Jumat Siang di Palangka Raya! Niat Menyalip Berujung Nyawa Melayang di Kolong Truk

"Hal ini menyebabkan pembentukan awan berkurang sehingga potensi hujan juga menurun," jelasnya.

Selain itu, kondisi cuaca semakin diperparah oleh fenomena El Nino moderat yang turut mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Menurut Ayu, musim kemarau di Kotawaringin Barat telah dimulai sejak dasarian III Juni dan diperkirakan berlangsung selama 13 hingga 15 dasarian atau hingga Oktober bahkan November 2026. Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada September.

Baca Juga: Kasus Sawit Bagendang, Dua Terdakwa Dituntut 6,5 Bulan Penjara

“Masyarakat diimbau menggunakan air bersih secara bijak, menjaga kesehatan agar terhindar dari dehidrasi, serta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas,” imbaunya. (tyo/fm)

 

Editor : Farid Mahliyannor
bpbd karhan kobar api karhutla