Waspada! Kasus Diare di Kotim Meningkat, Empat Bayi Dilaporkan Meninggal

M. Akbar • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 20:36 WIB
Ilustrasi Diare (AI)
Ilustrasi Diare (AI)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat peningkatan kasus diare sepanjang tahun 2026.

Hingga pekan ke-28, sebanyak 3.852 kasus tercatat, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 3.687 kasus. Dari jumlah tersebut, empat bayi dilaporkan meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan meski kenaikan kasus belum tergolong signifikan, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian serius karena diare dapat berkembang cepat dan berakibat fatal apabila terlambat ditangani.

“Memang ada peningkatan walaupun tidak signifikan, tetapi tetap kami waspadai karena dibandingkan beberapa waktu lalu jumlah kasusnya mengalami kenaikan,” ujarnya, Rabu (22/7).

Baca Juga: Diare dan ISPA Mengintai Saat Kemarau, Dinkes Kotim Ajak Masyarakat Terapkan PHBS

Berdasarkan data Dinkes, tren peningkatan juga terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Jumlah kasus pada pekan ke-26 tercatat sebanyak 112 kasus, kemudian meningkat menjadi 136 kasus pada pekan ke-27, dan kembali naik menjadi 155 kasus pada pekan ke-28.

Menurut Nugroho, bahaya utama diare adalah dehidrasi yang dapat terjadi dalam waktu singkat apabila penderita tidak segera memperoleh penggantian cairan dan penanganan medis.

“Diare ini sifatnya cepat. Kalau terlambat penanganannya, terlambat pemberian cairan, pasien bisa mengalami dehidrasi. Kalau dehidrasi sudah berat dan terlambat ditangani, risikonya bisa meninggal dunia,” tambahnya.

Hingga saat ini, Dinkes mencatat empat kematian akibat diare, masing-masing satu kasus di Kecamatan Teluk Sampit, satu kasus di Kecamatan Pulau Hanaut, dan dua kasus di Kecamatan Mentaya Hulu. Kejadian tersebut terjadi pada awal tahun 2026 lalu sebelum musim kemarau terjadi, sehingga diduga berkaitan dengan makanan yang terkontaminasi bakteri.

Ia menambahkan, semua kelompok usia berisiko terserang diare. Namun, bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentan karena lebih cepat mengalami dehidrasi.

“Pada bayi dan balita lebih berbahaya karena mereka biasanya tidak mau makan atau minum saat sakit sehingga lebih cepat mengalami kekurangan cairan,” jelasnya.

Dinkes mengimbau masyarakat segera membawa penderita ke fasilitas kesehatan apabila mengalami diare tiga kali atau lebih dalam waktu singkat. Selama menunggu penanganan medis, penderita juga harus segera diberikan cairan pengganti seperti oralit atau larutan gula garam untuk mencegah dehidrasi.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
Kasus Diare di Kotim diare bayi meninggal kotim