BPBD Kotim Kaji Kenaikan Status Karhutla, Kualitas Udara Jadi Parameter Penentu

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 09:03 WIB
Kabut asap menutup landasan pacu Bandar Udara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, saat pagi hari. (Warga/Radar Sampit)
Kabut asap menutup landasan pacu Bandar Udara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, saat pagi hari. (Warga/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih mengkaji kemungkinan menaikkan status penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sejumlah indikator dalam dokumen Rencana Kontinjensi Bencana Karhutla telah terpenuhi, namun satu parameter penting masih belum tersedia, yakni data kualitas udara.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan pihaknya saat ini melakukan kalkulasi ulang terhadap perkembangan situasi karhutla sebelum memutuskan peningkatan status.

"Kami lakukan kalkulasi ulang terkait situasi karhutla. Ada fitur yang belum kami dapatkan pada kualitas udara," kata Multazam,  Selasa (21/7/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan dokumen Rencana Kontinjensi Bencana Karhutla, sudah ada tiga parameter yang terpenuhi. Pertama, frekuensi kejadian kebakaran hutan dan lahan telah mencapai empat hingga lima kejadian dalam sehari.

Kedua, tinggi muka air tanah sudah berada di bawah minus 60 sentimeter. Ketiga, jumlah hotspot telah melampaui lima titik.

Meski demikian, BPBD belum dapat memastikan kenaikan status karena masih menunggu data kualitas udara yang menjadi salah satu indikator penting dalam pengambilan keputusan.

"Kualitas udara menjadi kunci parameter agar dalam situasi penetapan status menjadi lebih akurat," ujarnya.

Menurut Multazam, BPBD Kotim juga terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah terkait perkembangan kondisi karhutla di daerah.

"Kami lagi komunikasi dengan BPBPK Provinsi Kalteng. Dalam setiap kesempatan, hal ini selalu kami sampaikan pada pertemuan virtual setiap hari dan juga kepada instansi pengampu urusan kualitas udara, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi," katanya.

Data BPBD Kotim hingga 19 Juli 2026 menunjukkan kondisi karhutla terus mengalami peningkatan. Tercatat 423 hotspot, 85 kejadian kebakaran, dengan 77 kejadian telah ditangani. Sementara luas lahan yang terbakar mencapai 171,9133 hektare.

Berdasarkan sebaran hotspot kumulatif, Kota Besi menjadi kecamatan dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 92 hotspot, disusul Antang Kalang sebanyak 76 hotspot, Mentaya Hulu 35 hotspot, Baamang 29 hotspot, Mentawa Baru Ketapang 28 hotspot, dan Telaga Antang 25 hotspot.

Sementara jika dilihat dari luas lahan terbakar, Parenggean menjadi wilayah dengan area terdampak paling luas mencapai 41,5 hektare.

Disusul Baamang seluas 44,2163 hektare secara akumulatif penanganan di wilayahnya, serta Mentawa Baru Ketapang mencapai 33,979 hektare.

Secara kewilayahan, area tengah Kotim menyumbang sekitar 98,1263 hektare atau 57,08 persen dari total luas lahan yang terbakar.

Di sisi lain, pemantauan BMKG pada 21 Juli 2026 mendeteksi 59 hotspot dalam 24 jam terakhir, dengan 34 titik atau lebih dari separuh berada di Kecamatan Telaga Antang.

Kondisi tersebut menunjukkan potensi karhutla masih cukup tinggi sehingga BPBD terus meningkatkan pemantauan dan koordinasi lintas instansi.

Multazam menegaskan keputusan menaikkan status penanganan karhutla akan diambil setelah seluruh parameter dalam dokumen rencana kontinjensi terpenuhi, sehingga langkah yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Status Karhutla sampit bpbd kotim kalteng