SAMPIT- radarsampit.jawapos.com-Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kebakaran lahan terus meningkat. Hingga 19 Juli 2026, BPBD setempat mencatat sebanyak 423 hotspot dan 171,91330 hektare lahan terbakar.
Meski demikian, Pemkab setempat belum menaikkan status penanganan karhutla ke tanggap darurat karena masih menunggu terpenuhinya satu indikator, yakni kualitas udara.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan pihaknya masih melakukan kalkulasi ulang terhadap perkembangan karhutla sebelum memutuskan kenaikan status."Kami lakukan kalkulasi ulang terkait situasi karhutla. Ada fitur yang belum kami dapatkan, yaitu data kualitas udara," sebutnya.
Ia menjelaskan, penetapan status mengacu pada empat parameter dalam Dokumen Rencana Kontingensi Bencana Karhutla. Saat ini, tiga indikator telah terpenuhi."Yang sudah masuk ada tiga parameter, yaitu frekuensi kebakaran hutan dan lahan mencapai empat sampai lima kejadian dalam sehari, tinggi muka air tanah sudah di bawah minus 60 sentimeter, dan jumlah hotspot lebih dari lima titik," terang Multazam.
Lebih lanjut dijelaskan, indikator kualitas udara belum dapat dipenuhi karena alat pemantau mengalami kendala. BPBD Kotim masih berkoordinasi dengan BPBPK Provinsi Kalteng serta instansi yang membidangi pemantauan kualitas udara.
"Dalam setiap kesempatan, hal ini selalu kami sampaikan pada pertemuan virtual setiap hari dan juga kepada instansi pengampu urusan kualitas udara, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi," papar Multazam.
Berdasarkan laporan BPBD Kotim, sejauh ini telah terjadi 85 kejadian karhutla, dengan 77 kejadian berhasil ditangani. Total luas lahan yang terbakar mencapai 171,91330 hektare.
Baca Juga: DPRD Kalteng: Jika Terbukti, Pelaku Karhutla Harus Ditindak Tanpa Pandang Bulu
Wilayah tengah menjadi kawasan dengan dampak paling besar, menyumbang 98,12630 hektare atau sekitar 57,08 persen dari total luas lahan terbakar. Kecamatan Baamang mencatat kejadian terbanyak, yakni 30 kali, dengan luas lahan terbakar 44,21630 hektare. Sementara Parenggean hanya mengalami tiga kejadian, tetapi luas kebakarannya mencapai 41,5 hektare. Kota Besi menjadi kecamatan dengan hotspot terbanyak di wilayah tengah, yakni 92 titik, sebagian besar muncul pada Juli.
Di wilayah selatan, luas lahan terbakar mencapai 72,337 hektare atau 42,08 persen dari total luasan. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yaitu 32 kejadian, sedangkan Pulau Hanaut mengalami kebakaran seluas 20,75 hektare meski hanya tercatat satu hotspot sepanjang tahun.
Sementara itu, wilayah utara hanya mencatat 1,45 hektare lahan terbakar. Namun sejumlah kecamatan seperti Antang Kalang memiliki akumulasi hotspot yang tinggi, mencapai 76 titik, meski belum seluruhnya terkonfirmasi sebagai kebakaran di lapangan.
Data BPBD juga menunjukkan tren peningkatan yang tajam pada Juli. Hingga 19 Juli saja, jumlah hotspot telah mencapai 198 titik, jauh lebih tinggi dibandingkan Juni yang mencatat 43 titik. Lonjakan tersebut menunjukkan musim kemarau mulai meningkatkan risiko karhutla di berbagai wilayah Kotim.
Multazam menambahkan, hotspot yang terdeteksi belum tentu seluruhnya merupakan kejadian kebakaran. Namun, setiap titik panas tetap menjadi perhatian karena berpotensi berkembang menjadi karhutla apabila tidak segera dipantau dan di ditangani, terutama di tengah kondisi cuaca yang semakin kering.
Pihaknya pun mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apa pun. Selain berisiko memicu kebakaran yang meluas , aktivitas tersebut juga dapat memperburuk kualitas udara dan mengancam keselamatan warga di sekitar lokasi. (ang/yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama