SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menunjukkan tren mengkhawatirkan.
Hingga 14 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat luas lahan yang terbakar telah mencapai 151,7173 hektare dengan 72 kejadian karhutla yang tersebar di berbagai kecamatan.
Di balik angka tersebut, data BPBD memperlihatkan pola yang menarik. Mentawa Baru Ketapang menjadi kecamatan dengan jumlah kejadian kebakaran terbanyak, sedangkan Kota Besi mencatat hotspot paling banyak. Sementara itu, Parenggean menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan hingga saat ini petugas telah menangani 64 dari 72 kejadian karhutla yang terjadi sepanjang tahun 2026.
"Penanganan terus kami lakukan bersama seluruh unsur yang terlibat. Masih ada beberapa lokasi yang memerlukan penanganan lanjutan karena kondisi di lapangan cukup dinamis," katanya.
Berdasarkan rekap BPBD, Kota Besi menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 90 titik, disusul Antang Kalang sebanyak 70 titik, Mentaya Hulu 31 titik, Telaga Antang 25 titik, dan Tualan Hulu 23 titik.
Meski demikian, banyaknya hotspot tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar.
Data menunjukkan Parenggean justru menjadi kecamatan dengan lahan terbakar terluas, mencapai 41,5 hektare.
Posisi berikutnya ditempati Mentawa Baru Ketapang seluas 33,979 hektare, disusul Baamang 24,0203 hektare, Pulau Hanaut 20,75 hektare, dan Teluk Sampit 8,3 hektare.
Sementara dari sisi frekuensi kejadian, Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah yang paling sering mengalami kebakaran dengan 32 kejadian.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding Baamang yang mencatat 17 kejadian, sedangkan Parenggean dan Kota Besi masing-masing tiga kejadian.
Data ini menunjukkan kawasan perkotaan Sampit masih menjadi wilayah yang paling sering mengalami kebakaran, meskipun luasan lahan yang terbakar lebih kecil dibanding beberapa kecamatan lain.
BPBD juga mencatat sebagian besar dampak karhutla terjadi di wilayah tengah dan selatan Kotim. Dari total 151,7173 hektare lahan terbakar, 77,9303 hektare atau 51,37 persen berada di wilayah tengah.
Sementara wilayah selatan mencapai 72,337 hektare atau 47,68 persen. Adapun wilayah utara hanya menyumbang 1,45 hektare atau 0,96 persen.
Jika dibandingkan periode yang sama pada 2025, jumlah hotspot di Kotim memang mengalami penurunan. Tahun lalu tercatat 453 hotspot, sedangkan tahun ini sebanyak 372 hotspot, atau turun sekitar 17,9 persen.
Namun, Multazam mengingatkan kondisi tersebut belum bisa dianggap aman. Cuaca yang masih kering membuat potensi munculnya titik api baru tetap tinggi.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Jika menemukan titik api, segera laporkan agar bisa ditangani lebih cepat sebelum meluas," tegasnya.
BPBD memastikan patroli, pemantauan hotspot, dan koordinasi lintas instansi terus diperkuat guna menekan bertambahnya luas kebakaran di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di Kotawaringin Timur. (oes)
Editor : Slamet Harmoko