Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Tanda-Tanda Bencana Kabut Asap sudah Terasa

Usay Nor Rahmad • Selasa, 14 Juli 2026 | 21:32 WIB
Ilustrasi warga terganggu pernapasan akibat asap kebakaran lahan. (AI)
Ilustrasi warga terganggu pernapasan akibat asap kebakaran lahan. (AI)
SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Bencana kabut asap yang pernah terjadi tahun 2019 serta tahun 2023 silam, nampaknya bakal terulang lagi di musim kemarau tahun 2026.
Ciri-ciri  ke arah kejadian berulang itu mulai dirasakan warga. Paling terasa yakni, kabut asap yang mulai muncul sejak malam hari, serta bau aroma asap kebakaran lahan yang mulai menyengat. Terutama di pagi hari, di seputaran Kota Sampit dan sekitarnya.

Norahmad, salah satu warga Sampit mengungkapkan, meski kabut asap belum tampak pekat, aroma yang menyengat membuat warga khawatir karhutla kembali meluas dan menimbulkan bencana tercium kabut asap. Seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

"Setiap pagi sekarang sudah mulai bau asap. Kami khawatir kalau kebakaran terus meluas, nanti kabut asap kembali terjadi seperti dulu," katanya, Senin (13/7/2026).

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sekitar Kota Sampit. Salah satunya, pada Senin (13/7/2026), api kembali muncul di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 11 yang berada dalam radius Kota Sampit.

Selain itu, lahan kosong yang dipenuhi semak belukar di kawasan belakang Gudang Nomor 88, Jalan Moh Hatta, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, ditemukan terbakar, Senin sore (13/7/2026).

Kebakaran yang terjadi di dekat kawasan permukiman itu pertama kali dilaporkan warga bernama Ahdian pada pukul 16.09 WIB.

Baca Juga: Hotspot Bergeser ke MB Ketapang, BMKG: Kotim Masih Sangat Rawan Karhutla karena Belum Ada Potensi Hujan

personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim pun langsung bergerak menuju lokasi menggunakan satu unit mobil tangki pemadam.

Komandan Regu III Disdamkarmat Kotim, Supriansyah, mengatakan api membakar lahan kosong yang dipenuhi semak belukar dan posisinya sudah mendekati kawasan permukiman warga.

“Prioritas kami adalah mencegah api merambat ke rumah-rumah di sekitar lokasi," ujarnya, Selasa (14/7/2026).

Namun diakuinya, proses pemadaman tidak berjalan mudah. Akses menuju titik kebakaran menjadi kendala utama karena armada pemadam tidak dapat masuk ke lokasi.

"Jalan menuju titik api tidak cukup lebar untuk dilalui mobil pemadam. Akibatnya personel harus membawa peralatan dan melakukan pemadaman secara manual," katanya.

Meski menghadapi hambatan tersebut, petugas berhasil melokalisasi kobaran api pada pukul 16.53 WIB. Setelah itu dilakukan proses pendinginan dan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

Dalam penanganan kebakaran tersebut, Disdamkarmat Kotim mendapat dukungan dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Relawan Pemadam Kebakaran Kelurahan Ketapang.

Berdasarkan hasil pendataan awal, luas lahan yang terbakar di kawasan Jalan Moh Hatta itu diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Dugaan sementara penyebab kebakaran mengarah pada unsur kesengajaan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam juga mengatakan, penanganan kebakaran lahan di sekitar kawasan Jalan Sudirman KM 11 Sampit, tim gabungan terus berupaya mencegah kobaran api meluas dengan mengerahkan empat unit mobil tangki air (water tank).

"Sedang berupaya memblokir perluasan. Air permukaan tidak tersedia. Air pemadaman dilakukan secara estafet menggunakan water tank. Dua jalur firefighter menuju garis depan dengan lima bentang selang atau sekitar 150 meter dari unit water tank,"terangnya.

Diungkapkan Multazam, keterbatasan sumber air menjadi tantangan utama di lokasi kebakaran. Karena tidak tersedia air permukaan, pasokan air harus diangkut menggunakan mobil tangki dan disalurkan secara estafet agar pemadaman tetap dapat dilakukan.

Sebelumnya, berdasarkan data BPBD Kotim per 8 Juli 2026, telah terjadi 61 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 138,86780 hektare. Sejumlah wilayah di Kotim masih menjadi kawasan rawan munculnya titik api seiring berlangsungnya musim kemarau.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mendeteksi enam titik panas (hotspot) dalam 24 jam terakhir. Prakiraan cuaca pun menunjukkan belum ada potensi pertumbuhan awan hujan hingga Rabu (15/7/2026) pagi.

Kepala Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo mengungkapkan, kemunculan titik panas tersebut perlu menjadi perhatian serius, karena terjadi saat kondisi cuaca masih sangat mendukung terjadinya kebakaran lahan.

"Hotspot yang terpantau merupakan indikator awal yang harus segera ditindaklanjuti melalui pengecekan lapangan. Dengan kondisi cuaca saat ini, potensi kebakaran masih tinggi sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan," ujarnya.

Dipaparkannya, dari enam hotspot yang terdeteksi, tiga berada di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, tepatnya di Desa Eka Bahurui. Dua titik muncul pada Senin (13/7/2026) siang dan satu titik kembali terpantau pada Selasa (14/7/2026) dini hari.

Sementara itu, satu hotspot masing-masing terpantau di Desa Kuluk Telawang, Kecamatan Antang Kalang, Desa Soren, Kecamatan Kota Besi, dan Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.

Seluruh hotspot memiliki tingkat kepercayaan level 8 dan dipantau oleh satelit NOAA20 serta AQUA, sehingga tetap memerlukan pemantauan intensif di lapangan.

Tidak hanya itu, analisis parameter cuaca BMKG menunjukkan hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, masih berada pada kategori sangat mudah terbakar untuk periode 14 hingga 15 Juli 2026.

Kondisi tersebut diperparah oleh prakiraan cuaca numerik yang menyebutkan tidak ada potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kotim mulai Selasa (14/7/2026) pukul 07.00 WIB hingga Rabu (15/7/2026) pukul 07.00 WIB. (ang/oes/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
aroma bencana asap kabut asap kebakaran lahan