Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Januari-Juni 2026, Enam Kasus Bunuh Diri di Palangka Raya

Dodi Abdul Qadir • Selasa, 30 Juni 2026 | 05:37 WIB
Ilustrasi-pengidap gangguan mental (net)
Ilustrasi-pengidap gangguan mental (net)

Faktor Ekonomi Paling Dominan Jadi Pemicu

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Fenomena bunuh diri di Kota Palangka Raya menjadi perhatian serius. Dalam kurun Januari hingga Juni 2026, tercatat enam warga meninggal dalam peristiwa yang diduga berkaitan dengan tekanan hidup. Deretan kasus tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa persoalan kesehatan mental, tekanan ekonomi, dan masalah sosial telah menjadi ancaman yang tidak boleh lagi diabaikan.

Data yang dihimpun menunjukkan, sepanjang Januari terjadi tiga kasus. Korban pertama ditemukan pada 1 Januari di kawasan Jalan Kalimantan Gang Tri Tunggal. Beberapa hari kemudian, seorang pekerja bangunan di Kelurahan Kereng Bangkirai diduga mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi. Selanjutnya, pada 10 Januari, seorang karyawan swalayan juga ditemukan meninggal dunia. Dugaan sementara, korban mengalami tekanan karena persoalan utang.

Memasuki Juni, kembali terjadi tiga kasus. Seorang mahasiswa keperawatan ditemukan meninggal pada 14 Juni. Dugaan sementara, persoalan hubungan pribadi menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi peristiwa tersebut. Kemudian pada 24 Juni, seorang mahasiswa yang juga bekerja di sektor ritel modern ditemukan meninggal dan diduga mengalami tekanan ekonomi. Sehari berselang, seorang kepala keluarga muda dengan seorang anak juga ditemukan meninggal dunia. Dugaan awal mengarah pada himpitan ekonomi yang dialami korban.

Baca Juga: Kasus Bunuh Diri Marak di Kalteng, Berikut Pandangan Psikolog

Kepala Unit Pembinaan Operasional (KBO) Satreskrim Polresta Palangka Raya, Iptu Supri, mengatakan motif yang paling banyak ditemukan dalam sejumlah kasus tersebut berkaitan dengan persoalan ekonomi. Namun, terdapat pula kasus yang dipicu masalah hubungan pribadi.

"Yang dominan memang karena faktor ekonomi. Ada juga yang berkaitan dengan persoalan percintaan. Kami berharap peristiwa seperti ini tidak terus berulang," ujarnya kepada Radar Sampit, Jumat (26/6).

Menurut Supri, berbagai pihak perlu meningkatkan kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi tekanan hidup agar dapat memperoleh bantuan sebelum kondisinya memburuk.”Ingat jangan melakukan hal yang seperti itu,”ungkapnya.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Dina Elizabeth Sinaga, Sp.KJ, menegaskan fenomena tersebut tidak dapat dipandang sebagai peristiwa biasa. Menurutnya, setiap kasus merupakan kedaruratan psikiatrik yang umumnya dipicu akumulasi berbagai persoalan psikologis dan sosial.

"Kejadian ini memerlukan perhatian khusus. Secara psikologis, ini merupakan salah satu bentuk kedaruratan psikiatrik nyata yang bersumber dari akumulasi konflik, baik internal maupun eksternal," jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat lebih peka terhadap kondisi kesehatan mental diri sendiri maupun orang terdekat. Gangguan tidur berkepanjangan, rasa putus asa, merasa tidak berharga, hingga kehilangan harapan terhadap masa depan merupakan tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan.

Menurut dr. Dina, apabila seseorang mulai mengalami tekanan psikologis yang berat, segera berkonsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater agar mendapatkan penanganan sejak dini.

Sebagai langkah pencegahan, Rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei juga mengoptimalkan layanan Hotline Bunuh Diri "Suara Jiwa" yang dapat dihubungi masyarakat untuk memperoleh pendampingan dan layanan psikologis darurat.

Indikator klinis lain yang patut diwaspadai adalah munculnya pandangan yang sepenuhnya suram terhadap masa depan, serta adanya keinginan kuat untuk menyakiti diri sendiri (self-harm).

Baca Juga: Lagi, Oknum Mahasiswa Palangka Raya Ditemukan Putus Asa di Kamar Kos

Jika tanda-tanda bahaya psikologis tersebut sudah muncul, dr. Dina mengimbau untuk segeralah berkonsultasi dengan profesional seperti Psikiater atau Psikolog klinis.

Lanjut dr. Dina, sebagai langkah konkret memutus rantai krisis mental di Kalimantan Tengah, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kalawa Atei bergerak cepat dengan memaksimalkan fungsi Hotline Bunuh Diri "Suara Jiwa" di nomor 081152100000.

Saluran darurat ini disiapkan sebagai safe space (ruang aman) bagi siapa saja yang berada di titik terendah hidupnya.

"Melalui nomor tersebut, masyarakat akan langsung dilayani dan diarahkan oleh tenaga profesional yang siap memberikan penanganan psikologis darurat, bimbingan klinis, dan arahan medis guna mencegah tindakan fatal di kemudian hari." Pungkasnya.

Sementara itu, Ketua ERP, Christian Tito, mengatakan seluruh peristiwa tersebut dievakuasi bersama tim ERP, Rescue LazisMU Kalimantan Tengah, dan Emergency Fatmawati setelah menerima laporan dari masyarakat maupun kepolisian.

Ia menegaskan setiap kasus memiliki latar belakang yang berbeda sehingga tidak dapat disamaratakan. Karena itu, deteksi dini di lingkungan keluarga dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama pencegahan.

"Kepedulian lingkungan sekitar dapat menyelamatkan nyawa. Jika ada keluarga, tetangga, atau teman yang menunjukkan perubahan perilaku dan mengalami tekanan mental berat, lakukan pendekatan secara humanis dan segera hubungkan dengan tenaga profesional agar mendapatkan bantuan,"pungkansya.(daq/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#bunuh diri #mahasiswa #psikologis #PALANGKA RAYA #faktor ekonomi