Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Paparan Konten Negatif Ancam Anak-anak Kotim, Orang Tua Diminta Perketat Pengawasan Gawai Anak

M. Akbar • Kamis, 18 Juni 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi Konten Negatif Buatan (AI)
Ilustrasi Konten Negatif Buatan (AI)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kekhawatiran terhadap paparan konten negatif di internet mendorong sejumlah orang tua di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk memperketat pengawasan penggunaan gawai pada anak.

Selain membatasi waktu penggunaan, orang tua juga mulai memanfaatkan aplikasi pengawasan digital untuk memantau aktivitas anak di dunia maya.

Salah seorang ibu rumah tangga di Sampit, Nani, mengaku memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan gawai oleh anaknya. Menurutnya, kemudahan akses internet saat ini membawa manfaat sekaligus risiko yang perlu diantisipasi sejak dini.

“Gawai anak biasanya saya hubungkan dengan gawai orang tua melalui aplikasi seperti Family Link supaya kami bisa memantau apa saja yang diakses anak,” ujarnya, Rabu (17/6).

Nani mengatakan pengawasan tersebut dilakukan untuk mencegah anak mengakses konten yang tidak sesuai dengan usianya. Ia juga membatasi penggunaan media sosial dan mengatur jenis aplikasi yang dapat diunduh maupun digunakan oleh anak.

Menurutnya, peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak menggunakan teknologi digital. Pengawasan tidak hanya dilakukan melalui aplikasi, tetapi juga dengan membangun komunikasi yang baik dan memberikan pemahaman mengenai penggunaan internet secara bijak.

Ia mengaku mulai mengenalkan gawai kepada anaknya saat berusia sekitar tiga hingga empat tahun. Pada awalnya, perangkat tersebut digunakan sebagai sarana hiburan dan pembelajaran, seperti menonton lagu anak-anak atau video edukasi untuk mengenal huruf dan kata.

“Saya mulai mengenalkan gawai ketika anak berumur sekitar tiga sampai empat tahun. Biasanya digunakan saat anak sedang rewel atau untuk konten edukasi seperti menyanyi dan belajar mengenal huruf,” ungkapnya.

Namun seiring bertambahnya usia, jenis konten yang diminati anak mulai berubah. Jika sebelumnya lebih banyak mengakses materi edukasi, kini anak lebih sering menonton berbagai konten hiburan dan bermain gim.

Nani mengakui penggunaan gawai yang berlebihan dapat memengaruhi perilaku anak, terutama dalam hal interaksi sosial. Ia kerap melihat anak menjadi terlalu fokus pada layar sehingga kurang merespons lingkungan sekitar.

“Kadang anak terlihat lebih fokus pada handphone-nya. Bahkan terkadang kurang merespons ketika diajak berbicara,” jelasnya.

Karena itu, ia berusaha membatasi penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari. Di luar kebutuhan sekolah dan belajar, anak hanya diperbolehkan menggunakan gawai pada waktu tertentu, terutama saat hari libur.

“Kalau bukan untuk keperluan sekolah atau belajar, biasanya hanya boleh digunakan saat libur sekolah,” ucapnya.

Saat ada kegiatan keluarga, Nani juga menerapkan aturan khusus agar anak tidak terlalu lama bermain gawai dan lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

“Kalau ada acara kumpul keluarga, biasanya saya batasi penggunaan gawai supaya anak bisa bermain dengan anak-anak lain,” tuturnya.

Meski demikian, ia mengakui penerapan aturan tersebut tidak selalu mudah. Anak terkadang menunjukkan reaksi marah atau protes ketika waktu penggunaan gawai dibatasi.

Menurut Nani, orang tua harus memberikan contoh yang baik dalam penggunaan gawai. Sebab, anak cenderung meniru kebiasaan yang dilakukan orang tuanya di rumah.

“Kalau anak dibatasi menggunakan handphone, tapi orang tuanya bebas menggunakan tanpa batas, kadang anak juga protes. Jadi peran orang tua sangat penting,” tukasnya.

Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah mengatur durasi penggunaan gawai karena perangkat tersebut sangat mudah diakses. Di tengah kesibukan orang tua bekerja atau mengurus rumah tangga, gawai sering menjadi pilihan praktis untuk menghibur anak.

Karena itu, Nani berharap para orang tua dapat lebih aktif mendampingi anak saat menggunakan teknologi digital agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal tanpa mengabaikan tumbuh kembang dan interaksi sosial anak.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
#Gawai Anak #kotim #anak-anak #konten negatif