Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Harga TBS Sawit Kembali Menguat, DPRD Kotim Usul Panggil Seluruh PKS

Rado. • Rabu, 3 Juni 2026 | 12:42 WIB

 

Petani kelapa sawit di wilayah selatan Kotim saat panen di tengah banjir. (Dok. Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 
Petani kelapa sawit di wilayah selatan Kotim saat panen di tengah banjir. (Dok. Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

 

SAMPIT, RADAR SAMPIT – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani swadaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan tren positif.

Berdasarkan pembaruan harga per 3 Juni 2026, mayoritas pabrik kelapa sawit (PKS) telah menaikkan harga pembelian TBS hingga menembus angka Rp3.000 per kilogram.

Anggota DPRD Kotim, Andi Lala, mengapresiasi langkah sejumlah PKS yang mulai menaikkan harga pembelian TBS petani. Menurutnya, kenaikan tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat, khususnya dari Wakil Menteri Pertanian, terkait upaya menjaga kesejahteraan petani sawit.

“Kita mengapresiasi PKS yang sudah mulai mengikuti arahan dari Wakil Menteri Pertanian. Ini terbukti dengan naiknya harga TBS petani swadaya dalam beberapa hari terakhir,” ujar Andi Lala.

Data harga terbaru menunjukkan lima dari tujuh PKS yang merilis harga telah melakukan kenaikan, sementara dua lainnya bertahan pada harga sebelumnya. Tidak ada perusahaan yang menurunkan harga pembelian TBS.

PKS Windu Nabatindo Lestari (WNL) tercatat menawarkan harga tertinggi sebesar Rp3.175 per kilogram. Posisi berikutnya ditempati Agro Bukit dengan harga Rp3.140 per kilogram dan Agro Indomas Rp3.130 per kilogram.

Sementara itu, Mustika Sembuluh (MS) POM 2 menetapkan harga Rp3.120 per kilogram untuk kategori khusus drive thru (DT). Disusul Borneo Indah Sawitindo (BIS) Rp2.960 per kilogram, Musirawas Rp2.870 per kilogram, serta Gading Sawit Kencana Rp2.825 per kilogram untuk kategori DT.

Kenaikan juga terjadi pada harga brondolan. Agro Indomas membeli brondolan dengan harga tertinggi mencapai Rp3.640 per kilogram, sedangkan Agro Bukit sebesar Rp3.580 per kilogram.

Menurut Andi, kondisi tersebut menjadi angin segar bagi petani sawit yang sebelumnya sempat mengeluhkan anjloknya harga TBS di sejumlah PKS.

“Yang kita harapkan tentu harga ini bisa terus stabil dan meningkat. Ketika harga membaik, dampaknya langsung dirasakan petani dan ikut menggerakkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Meski harga mulai membaik, DPRD Kotim menilai perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terkait penyebab turunnya harga TBS yang sempat terjadi beberapa waktu lalu. Untuk itu, Andi mengusulkan agar seluruh PKS di Kotim dipanggil dalam forum bersama pemerintah daerah dan pihak terkait.

“Saya mendorong agar DPRD segera memfasilitasi pertemuan antara perusahaan, pemerintah daerah, dan pihak terkait untuk mengevaluasi penyebab anjloknya harga TBS yang sempat menyentuh titik terendah beberapa waktu lalu. Langkah ini penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan petani memiliki kepastian harga yang lebih baik,” tegasnya.

Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi wadah komunikasi antara perusahaan, pemerintah, DPRD, dan para pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan langkah menjaga stabilitas harga sawit di tingkat petani.

Di sisi lain, petani juga diingatkan untuk tetap menjaga kualitas buah yang dipanen. Seiring membaiknya harga, perusahaan diperkirakan tetap menerapkan standar sortasi yang ketat agar TBS yang diterima memenuhi kualitas dan tingkat kematangan sesuai ketentuan.

Dengan mayoritas PKS kini membeli TBS di kisaran Rp3.000 per kilogram atau lebih, petani sawit di Kotim mulai melihat harapan baru setelah sempat menghadapi tekanan harga dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan tersebut diharapkan menjadi awal pemulihan sektor perkebunan sawit yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat daerah. (hms)

Editor : Slamet Harmoko
#harga sawit #harga tbs #pks