SAMPIT, radarsampit.jawapos.com — Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah di Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terancam tidak dimanfaatkan secara optimal. Penyebabnya, petani setempat masih kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) solar subsidi untuk operasional pertanian.
Perwakilan kelompok tani Teluk Sampit, Safrudin, mengatakan wilayah mereka selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Kotim. Namun, petani justru menghadapi kendala mendapatkan solar subsidi untuk mendukung aktivitas pertanian.
“Percuma bantuan alsintan diberikan kalau petani tetap sulit mendapatkan BBM subsidi. Akhirnya alat hanya jadi pajangan,” kata Safrudin.
Ia menjelaskan, sebelumnya petani masih mampu menggunakan BBM nonsubsidi karena harganya relatif terjangkau. Namun, setelah harga BBM nonsubsidi meningkat, biaya operasional pertanian ikut naik sehingga petani kini sangat bergantung pada solar subsidi.
Menurut Safrudin, tambahan kuota BBM subsidi yang disebut diperuntukkan bagi petani hingga kini belum dirasakan di lapangan, khususnya di wilayah Teluk Sampit.
“Katanya ada tambahan kuota untuk petani, tapi sampai sekarang kami belum pernah merasakannya,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti dugaan praktik pelangsiran BBM yang dinilai memperparah antrean solar subsidi di SPBU. Ia meminta distribusi BBM subsidi diprioritaskan untuk kebutuhan pertanian.
“Kalau memang ada jatah untuk pelangsir, jangan dicampur dengan petani. Kami antre untuk kebutuhan sawah dan pertanian,” tegasnya.
Safrudin mengingatkan, apabila persoalan distribusi BBM subsidi terus terjadi, bantuan alsintan dari pemerintah berpotensi tidak memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi pangan di wilayah pesisir Kotim.
“Jangan sampai bantuan pemerintah jadi mubazir karena petani tidak bisa mengoperasikan alsintan akibat sulit mendapatkan BBM subsidi,” tandasnya. (ang/yit)
Editor : Heru Prayitno