Harga TBS Anjlok, Segini Harga Jual Sawit di Kotawaringin Barat
Koko Sulistyo• Jumat, 22 Mei 2026 | 11:33 WIB
Ilustrasi petani sawit (AI)
PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com - Petani kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Barat kelimpungan. Sehari setelah pidato presiden Prabowo Subianto tentang ekspor komoditas strategis melalui BUMN baru PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), harga Tandan Buah Segar (TBS) ditingkatkan petani rontok.
Petani mengeluhkan dalam sehari terakhir, terjadi pemangkasan harga TBS Kelapa Sawit hingga Rp 600 perkilogramnya. Rontoknya harga TBS kelapa sawit merata hampir di seluruh Kotawaringin Barat.
Beberapa pabrik kelapa sawit telah mengumumkan penurunan harga beli TBS kelapa sawit di beberapa wilayah di Kotawaringin Barat. Berdasarkan rilis dari beberapa perusahaan harga saat ini (Rp/Kg) tren penurunan (Rp) :
PT SKM — Rp3.150/kg
PT MPP — Rp3.140/kg
PT TSA MLT — Rp3.130/kg
PT SMU — Rp3.130/kg
PT Sulung — Rp3.120/kg
PT SUAYAP — Rp3.080/kg
PT KSA — Rp3.020/kg
PT GSIP — Rp2.830/kg
PT BGA — Rp2.750/kg
PT PAM — Rp2.740/kg
PT Sal B — Rp2.690/kg
PT Sal C — Rp2.690/kg
PT ASM — Rp2.680/kg
PT HPS — Rp2.660/kg
PT SIP — Rp2.590/kg
Pemilik usaha pengepul kelapa sawit di Jalan Ahmad Shaleh, Syarif, per Jumat 22 Mei 2026 mengatakan bahwa harga perkilogram TBS kelapa sawit yang ia ambil dari petani perkilogramnya Rp2600.
"Saat ini harga pabrik di PT BGA perkilonya Rp2.660, jadi terpaksa kami beli harga sawit masyarakat dengan harga standar pabrik, kemarin kita masih ambil diharga Rp3250 perkilonya," ujarnya, Jumat 22 Mei 2026.
Sementara itu, petani kelapa sawit, Manuel mengaku bingung dengan penurunan harga kelapa sawit yang mencapai hampir Rp600 perkilogramnya, mengingat untuk biaya produksi termasuk pupuk sudah tidak sebanding dengan harga sekarang.
Menurutnya, sementara harga pupuk meroket, justru harga TBS anjlok sehingga untuk keuntungan susah tidak ada lagi, padahal sebelum ini petani kelapa sawit sangat semangat mengingat harga sangat bagus di kisaran Rp3200 sampai Rp3300 perkilo.
Ia menegaskan, imbas dari pidato presiden Prabowo tentang ekspor CPO harus melalui BUMN memicu gejolak di perusahaan-perusahaan besar swasta kelapa sawit.
"Kita hanya berharap, agar harga dapat kembali naik dan petani dapat tersenyum lagi, kalau terus melorot harganya petani memilih untuk tidak mengurus kebunnya," pungkasnya. (tyo)