SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Tingginya curah hujan di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) sepekan terakhir sudah berdampak banjir dan tanah longsor, seperti di wilayah Kotawaringin Barat (Kobar) dan Kotawaringin Timur (Kotim).
Beberapa hari terakhir, Kotim menjadi wilayah paling parah diterjang banjir alias terdampak bencana Hidrometeorologi itu. Selain di beberapa desa di wilayah utara, banjir juga terjadi di sekitar Kota Sampit dan merendam sejumlah ruas jalan, serta pemukiman/rumah warga, di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Kecamatan Baamang. Terutama ketika hujan deras turun sejak sekitar pukul 16.00 WIB, Minggu (17/5), hingga malam hari.
Beberapa titik ruas jalan yang terdampak banjir seperti Jalan HM Arsyad, Jalan Pelita, kawasan Jalan Anggur, Jalan Jeruk I, pemukiman sekitar Jalan Suka Bangsa, Jalan Walter Condrad, dan beberapa titik di Jalur Terowongan Nur Mentaya, Sampit.
Bahkan pada Sabtu (16/5) petang hingga malam hari, hujan juga mengguyur wilayah Kotim, dan sudah memicu banjir di sejumlah ruas jalan dan pemukiman warga di Kota Sampit. Hal itu diperparah dengan pasangnya air Sungai Mentaya saat sore hari, dan sampai meluber ke pemukiman sekitar bantaran sungai.
Salah satu masalah klasik pemicu banjir, yakni mampetnya sejumlah drainase primer dan sekunder di perkotaan, dan permukiman warga, serta sejajarnya permukaan tanah dengan permukaan Sungai Mentaya ketika mengalami pasang. Akibatnya genangan air mudah terjadi, di tengah hujan yang mengguyur lebih dari 3-4 jam.
Sebelumnya, data prakiraan probabilistik curah hujan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Kotim sudah menampilkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter pada dasarian II Mei atau periode 11–20 Mei 2026. Intensitas hujan diprediksi berada pada kategori menengah hingga tinggi di sebagian wilayah Kalteng.
Baca Juga: Banjir Kembali Menyapa Sampit, Air Mulai Masuk ke Rumah Warga
Dalam peta prakiraan BMKG, sejumlah wilayah tampak didominasi warna kuning hingga merah yang menunjukkan probabilitas hujan lebat berkisar 60 hingga 90 persen. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu peningkatan debit sungai dan banjir, khususnya di daerah aliran Sungai Mentaya bagian hulu.
Dalam rilis Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, kondisi cuaca tersebut dipicu aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) di sebagian wilayah Kalteng. Selain itu, terdapat belokan angin dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi yang memicu pertumbuhan awan hujan.
Sejumlah daerah yang diprediksi berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat mengalami hujan sedang hingga lebat di antaranya Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Katingan, Kapuas, Pulang Pisau, hingga Palangka Raya.
Prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit juga mencatat, curah hujan di Kotim diprediksi mulai menurun signifikan memasuki Dasarian III Mei 2026 atau sekitar 21 Mei mendatang.
Sementara itu, banjir dan tanah longsor di utara Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tercatat berdampak kepada 99 kepala keluarga (KK) atau 219 jiwa. Akses darat di Desa Tumbang Mujam, Kecamatan Tualan Hulu, terancam terputus akibat longsor yang menyisakan jarak sekitar satu meter dari badan jalan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, beberapa wilayah yang sebelumnya terdampak banjir, sempat mengalami penurunan debit air, Minggu (17/5) malam. “Banjir di Desa Sungai Hanya di Kecamatan Antang Kalang dan Desa Tumbang Sangai di Kecamatan Telaga Antang dilaporkan surut,” ujarnya.
Namun, perkembangan kondisi banjir di Desa Tumbang Mujan, Kecamatan Tualan Hulu, hingga malam tadi, masih belum ada laporan pembaruan dari lapangan.
BPBD mencatat banjir masih terjadi di sejumlah wilayah Kecamatan Mentaya Hulu, meliputi Desa Bawan, Desa Tanjung Jariangau, Desa Kawan Baru, hingga Kelurahan Kuala Kuayan.
“Total ada 174 rumah terendam. Kemudian tiga tempat ibadah, delapan fasilitas pendidikan, satu gedung pemerintahan, dan sekitar 2.600 meter jalan desa maupun jalan kabupaten ikut terdampak,” ungkap Multazam.
Akibat genangan air yang masih cukup tinggi, aktivitas warga di sejumlah wilayah pedalaman masih terganggu. Ruas jalan Tanjung Jariangau–Bawan–Kuayan sebelumnya juga dilaporkan belum dapat dilintasi kendaraan.
Baca Juga: Banjir di Utara Kotim Belum Sepenuhnya Surut, Ruas Jalan Pelangkong–Kuayan Masih Lumpuh
Dijelaskan Multazam, karakteristik banjir di wilayah utara Kotim, bergerak secara estafet dari hulu menuju hilir. Saat ini akumulasi luapan air utama terpantau berada di wilayah Kecamatan Mentaya Hulu.
Diungkapkannya pula, di Desa Sungai Hanya, Kecamatan Antang Kalang, tinggi muka air sempat naik hingga 6,69 meter setelah sempat menyurut sehari sebelumnya. Sebanyak 80 rumah terendam dengan genangan di jalan desa mencapai 50–110 sentimeter.
Akibatnya, aktivitas transportasi darat lumpuh total dan warga terpaksa menggunakan perahu maupun sampan untuk beraktivitas sehari-hari.
Pihak BPBD memperkirakan, dalam beberapa hari ke depan luapan air dari wilayah hulu diperkirakan masih akan bergerak menuju hilir dan mencapai titik akumulasi di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi.
Karena itu, langkah antisipasi difokuskan pada wilayah hilir melalui penguatan koordinasi dengan camat, aparat desa, dan relawan guna memantau perkembangan debit air serta dampak yang ditimbulkan.
Selain itu, evaluasi teknis bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) juga disiapkan untuk menangani longsor di Tumbang Mujam setelah kondisi memungkinkan.
“Proteksi dini terus kami lakukan di wilayah hilir sembari memantau perkembangan banjir dari hulu. Masyarakat kami imbau tetap waspada karena pergerakan air masih berlangsung,” imbuh Multazam.
Warga di daerah rawan banjir dan bantaran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi banjir kiriman dari wilayah hulu diperkirakan masih terjadi dalam beberapa hari ke depan.(ang/oes/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama