SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) mulai menelusuri penyebab sempat berkurangnya pasokan minyak goreng subsidi Minyakita di sejumlah pasar tradisional di Sampit.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKUPP Kotim, Muslih, mengatakan berdasarkan hasil koordinasi dengan sejumlah instansi terkait, kendala utama terjadi akibat berkurangnya pasokan minyak goreng ke pasar.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan melakukan pengecekan lapangan. Memang kendalanya pasokan minyak sempat berkurang, tetapi dalam beberapa hari terakhir mulai teratasi,” ujarnya, Minggu (17/5).
Menurut Muslih, pantauan harga Minyakita seperti di Pasar Keramat masih berada pada kisaran normal, yakni Rp15.700 hingga Rp16.000 per liter dan masih sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Setiap hari kami pantau dan sejauh ini harga masih dalam batas HET,” tambahnya.
Namun demikian, pihaknya mengaku masih menerima informasi adanya pedagang yang kesulitan memperoleh pasokan Minyakita karena stok terbatas. Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya persoalan distribusi hingga indikasi permainan di tingkat agen.
“Ini yang masih kami telusuri, karena pabriknya ada di daerah kita tetapi barangnya justru sempat sulit ditemukan di pasaran,” jelasnya.
DKUPP bersama bagian ekonomi dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait berencana melakukan penelusuran langsung ke lapangan untuk mengetahui penyebab pasti terganggunya distribusi Minyakita.
Muslih menegaskan, apabila nantinya ditemukan dugaan penimbunan atau pelanggaran distribusi, maka pihaknya akan meneruskan persoalan tersebut kepada aparat penegak hukum (APH).
“Kalau ada dugaan penimbunan tentu akan kami tindak lanjuti bersama aparat penegak hukum,” tegasnya.
Ia menambahkan, sebagian besar pedagang di Kotim memperoleh pasokan Minyakita dari Perum Bulog dan distributor swasta. Namun, kuota yang diterima Bulog sebelumnya memang sempat terbatas.
Sebelumnya, Kepala Perum Bulog Cabang Kotim, Muhammad Azwar Fuad, menjelaskan keterbatasan kuota distribusi menjadi penyebab utama tersendatnya pasokan Minyakita di pasaran.
Menurutnya, alokasi Minyakita untuk BUMN pangan hanya sebesar 30 persen dari total produksi pabrikan sesuai ketentuan Kementerian Perdagangan. Kuota tersebut dibagi antara Bulog dan ID Food, sementara 70 persen sisanya disalurkan melalui pihak swasta.
Selain itu, pada Maret 2026 produsen juga memprioritaskan distribusi Minyakita untuk program bantuan pangan nasional, sehingga pasokan ke pasar sempat berkurang.
Namun, Bulog memastikan distribusi Minyakita kini mulai kembali normal seiring berakhirnya program bantuan pangan tersebut. (ktr-2/sla)
Editor : Slamet Harmoko