SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Banjir kembali merendam sejumlah desa di wilayah utara Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, akibat tingginya intensitas curah hujan dalam beberapa hari terakhir.
Sedikitnya enam desa di Kecamatan Telaga Antang terdampak banjir sejak Kamis (14/5/2026), yakni Desa Tumbang Boloi, Tumbang Bajanei, Luwuk Kowan, Rantau Tampang, Rantau Katang dan Tumbang Sangai.
Sekretaris Desa Tumbang Boloi Tatah, mengatakan debit air terus meningkat hingga merendam permukiman warga dengan ketinggian bervariasi antara 30 hingga 80 sentimeter.
“Untuk di Tumbang Boloi sendiri sedikitnya ada sekitar 10 rumah warga yang mulai terendam banjir. Kondisinya diperkirakan masih bisa bertambah apabila hujan kembali turun,” ujar Tatah.
Selain merendam rumah warga, banjir juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah titik desa terdampak. Warga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan naiknya debit air, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, dalam laporan update situasi bencana banjir per 16 Mei 2026 pukul 10.17 WIB menyebutkan kondisi banjir di beberapa wilayah masih fluktuatif mengikuti curah hujan di hulu Sungai Mentaya.
“Desa Sungai Hanya, Kecamatan Antang Kalang mulai surut, namun kondisi masih fluktuatif menyesuaikan curah hujan di hulu Sungai Mentaya,” kata Multazam.
Sementara itu, banjir di Desa Tumbang Sangai, Kecamatan Telaga Antang, masih merendam tiga RT dengan ketinggian air berkisar 20 hingga 60 sentimeter.
Selain wilayah pedesaan, banjir juga terjadi di Kelurahan Kuala Kuayan. Beberapa ruas jalan yang terdampak di antaranya Jalan Pelangkong, Jalan Kuayan-Bawan, Jalan Kuayan-Sapiri dan Gang Rawa Indah dengan kedalaman air mencapai 25 hingga 75 sentimeter di atas permukaan jalan.
Menurut Tatah, kondisi banjir di wilayah utara Kotim dalam beberapa tahun terakhir dinilai semakin sering terjadi. Ia menilai kerusakan lingkungan dan berkurangnya kawasan hutan menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir saat musim hujan tiba.
“Masuknya perusahaan perkebunan hingga ke wilayah bantaran Sungai Mentaya dan anak-anak sungai dinilai ikut mempengaruhi kondisi lingkungan. Minimnya kepedulian terhadap ekosistem membuat daerah kami semakin rawan banjir,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan kondisi lingkungan di wilayah utara Kotim, termasuk mengevaluasi izin pembukaan lahan baru yang dinilai berpotensi memperparah bencana banjir.
“Kami berharap tidak ada lagi perluasan maupun pembukaan lahan baru, khususnya di wilayah Kotim bagian utara, karena belakangan ini daerah kami cukup rawan banjir,” tutupnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko