Dua sungai terpanjang di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan Kotawaringin Barat, yakni Sungai Mentaya dan Sungai Arut, meluap belakangan ini. Hal itu dipicu tingginya curah hujan di wilayah utara atau hulu, dan berdampak banjir yang menerjang beberapa desa, serta merendam puluhan rumah warga. Saat ini banjir masih terjadi dan berpotensi meluas.
------------------------------------------
Dalam beberapa hari terakhir, terjadi peningkatan curah hujan di wilayah Hulu Sungai Mentaya, khususnya wilayah Kecamatan Antang Kalang. Akibatnya sungai pun meluap dan air merendam wilayah Desa Sungai Hanya.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Kotim mengalami dinamika cuaca yang cukup fluktuatif dengan peningkatan curah hujan pada periode 12 hingga 14 Mei 2026. Curah hujan tinggi terutama terjadi di kawasan Hulu Sungai Mentaya sejak 12–13 Mei 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat, sedikitnya sudah ada 70 kepala keluarga terdampak banjir di desa itu. Bahkan ketinggian genangan air dilaporkan mencapai 1,5 meter di sejumlah titik.
Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya debit air hingga menyebabkan banjir di wilayah pedalaman, termasuk Desa Sungai Hanya. Air tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga menutup akses jalan desa.
“Rumah terdampak kurang lebih 80 rumah dan kurang lebih 70 KK, ketinggian air mencapai 1,5 meter di beberapa titik. Tingginya curah hujan selama beberapa hari terakhir menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan meluapnya debit air sungai di kawasan tersebut,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam.
Baca Juga: Banjir Ancam Putus Jalan Poros di Rungun dan Riam Panahan
Selain merendam rumah, banjir juga menghambat mobilitas warga lantaran akses jalan di desa tertutup genangan. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin parah apabila intensitas hujan di wilayah hulu masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Multazam menambahkan, BPBD bersama pihak terkait terus memantau perkembangan situasi banjir dan kondisi cuaca guna mengantisipasi dampak lebih luas. Warga di wilayah rawan banjir juga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi yang masih berpotensi terjadi.
Terpisah, sama halnya di hulu Sungai Arut. Tingginya curah hujan juga memicu kenaikan debit air sungai di Daerah Aliran Sungai (Das) Arut, Kecamatan Arut Utara.
Meningginya debit air sungai mengakibatkan air meluap dan merendam permukiman di Kelurahan Pangkut. Informasi dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Barat (Kobar) tercatat lima wilayah RT sudah terdampak banjir.
Bukan hanya di Kelurahan Pangkut, beberapa desa di bantaran sungai terpanjang di Kotawaringin Barat itu juga terdampak meluapnya sungai Arut. Meski demikian, belum didapat informasi adanya warga yang mengungsi, mengingat air masih sebatang naik sampai teras rumah warga.
Ariyandi, salah satu warga Kelurahan Pangkut mengatakan,apabila air terus naik, maka sumur air bersih warga terancam terkontaminasi dan tidak bisa digunakan terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
"Kalau air sudah masuk ke sumur-sumur, maka warga terancam kesulitan mendapatkan air bersih, sementara ini ketinggian air masih di bawah bibir sumur, tetapi melihat cuaca seperti sekarang sepertinya tidak lama lagi sumur sudah tidak bisa digunakan," terangnya.
Selain itu lanjut Ariyandi, tidak menutup kemungkinan bila hujan dengan durasi waktu yang lama terus turun, rumah-rumah warga bakal terendam. Hingga Jumat 15 Mei 2026, hujan masih turun di hulu sungai Arut dan di Kota Pangkalan Bun.
Sementara itu, Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Kobar Andan Santana menyatakan, mereka terus memantau perkembangan banjir di Kecamatan Arut Utara dan Kecamatan Kotawaringin Lama.
Menurutnya, banjir di Kecamatan Arut Utara sudah merendam lingkungan di lima RT di Kelurahan Pangkut, kemudian di Desa Kerabu, Desa Riam, dan Desa Panahan.
"Tim TRC sudah melakukan pengecekan dan pendataan di Arut Utara dan di Kotawaringin Lama, dan kita terus pantau perkembangannya setiap hari," pungkas Andan.
Sementara itu sebelumnya, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah pada 14 hingga 16 Mei 2026. Dalam peringatan tersebut, belasan kabupaten dan kota di Kalteng diprediksi berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya menjelaskan, kondisi cuaca itu dipengaruhi adanya daerah belokan angin dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi di wilayah Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut mampu meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
Selain itu, kelembapan udara yang cukup basah serta labilitas atmosfer lokal yang kuat turut mendukung proses konvektif pembentuk awan hujan di sejumlah wilayah.
Adapun daerah yang masuk dalam potensi hujan sedang hingga lebat yakni yakni Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Sukamara, Lamandau, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas, Pulang Pisau, serta Palangka Raya. (ang/tyo/oes/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama