PALANGKA RAYA,radarsampitjawaoos.com- Misteri panjangnya antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) yang meresahkan warga Kota Palangka Raya dalam beberapa pekan terakhir nampaknya terkuak.
Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi antara Pemerintah Kota Palangka Raya, PT Pertamina Patra Niaga, dan perwakilan SPBU pada Jumat (8/5)malam.
Data yang diungkap dalam rapat itu menunjukkan terjadinya penurunan drastis pada volume distribusi. Biasanya, Palangka Raya secara konsisten menerima suplai sekitar 190 kiloliter (KL) per hari. Namun, secara mengejutkan, angka tersebut anjlok menjadi hanya 150 KL pada periode 1-5 Mei kemarin.
Baca Juga: Kuota BBM Se Kalteng Ditambah 15-20 Persen
Meski dalam dua hari terakhir pasokan sedikit dinaikkan ke angka 170 KL, jumlah tersebut dinilai masih jauh di bawah kebutuhan normal masyarakat.
Hal itu mencuat ke permukaan setelah pihak Kejaksaan Negeri Palangka Raya mempertanyakan kejanggalan distribusi tersebut. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Palangka Raya, Yunardi, secara langsung mencecar pihak terkait mengenai penyebab tersendatnya suplai yang berujung pada antrean panjang di hampir seluruh SPBU di Kota Cantik.
"Normalnya di angka 200 KL, tapi yang terjadi justru penurunan suplai. Ini yang menjadi pertanyaan besar bagi kita semua," tegas Yunardi dalam pertemuan tersebut.
Baca Juga: Antrean Panjang Pengisian BBM Juga Terjadi di Kuala Kurun
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin pun, mendesak agar Pertamina tidak hanya memberikan solusi jangka pendek. Ia meminta agar kuota BBM ditingkatkan secara permanen untuk mengimbangi pertumbuhan kendaraan dan kebutuhan riil kota yang mencapai sekitar 205 KL per hari.
"Kalau bisa ditambah, jangan hanya saat kondisi darurat saja. Realitanya kita butuh 205 KL, sementara awal Mei kita hanya dapat 150 KL. Wajar saja jika terjadi gejolak di masyarakat," tegas Fairid.
Rapat yang juga dihadiri jajaran kepolisian itu pun menghasilkan komitmen tegas. Jika kesepakatan distribusi tidak segera dijalankan sebagaimana mestinya, aparat penegak hukum siap turun tangan melakukan penyelidikan mendalam.
Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada oknum yang bermain di balik krisis energi ini.
Kini, publik menanti langkah konkret dari pihak Pertamina agar pemandangan antrean panjang yang menghambat produktivitas warga tidak kembali terulang di kemudian hari. (gus/jpc)