Hujan lebat dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Sampit Minggu (3/5) pagi hingga sekitar pukul 10.00WIB, ditambah dengan pasangnya permukaan air Sungai Mentaya, tak mampu dinetralisir oleh sistem drainase perkotaan.
Indra, salah satu warga Jalan Nangka 1, Kecamatan Mentawa Baru (MB) Ketapang mengungkapkan banjir kali ini lebih parah dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Air tidak hanya mengenangi halaman, tetapi masuk ke dalam rumah.
“Rumah banjir. Kamis (30/4) lalu juga sempat hujan lebat, tapi banjir hanya sampai halaman dan kemudian surut. Sekarang dari halaman sampai ke dalam rumah,” ujarnya.
Genangan air juga terlihat di sejumlah jalan protokol di dalam kota. Seperti beberapa titik di Jalan Ayani Sampit, Jalan Suprapto, Jalan HM Arsyad, Jalan Pelita Timur, Jalan Anggur, Jalan Jeruk dan beberapa jalan serta gang di Kecamatan Baamang, seperti di Jalan Suka Bangsa, Jalan Cristopel Mihing, Jalan Kenan Sandan, Jalan Tjilik Riwut-Terowongan Nur Mentaya, serta Jalan Walter Condrat.
Selain itu banjir juga terjadi di sejumlah jalan lingkungan yang kawasannya tak jauh dari bibir Sungai Mentaya, dan saluran drainasenya mengarah ke sungai besar.
Baca Juga: Atasi Banjir, Tata Kota Sampit Perlu Dievaluasi
Salah satu fasilitas publik di tengah kota yang terendam, yakni halaman Gedung Serbaguna Sampit. Akibatnya, sebuah pesta perkawinan menjadi terganggu, lantaran air menggenang sampai ke pelataran. Alhasil, para tamu undangan yang datang harus melepaskan alas kaki dan menyingsingkan celana, ketika ingin memasuki gedung.
Seperti di beberapa titik kawasan Jalan Sukabangsa, Baamang, yang berdekatan dengan saluran primer Sungai Sawahan, sudah jadi langganan kebanjiran.
Ilmi, salah satu warga setempat mengaku untuk kesekian kalinya harus mengungsi, akibat air masuk ke dalam rumah, pasca hujan deras dengan durasi cukup lama.
“Waktu hujan deras pada Kamis (30/4), banjir hanya di halaman, sudah khawatir juga kalau sampai masuk rumah. Alhamdulillah waktu itu surut. Tapi hari Minggu pagi hujan lebat lagi, banjir masuk ke dalam rumah,” katanya.
Menurut Ilmi, tingginya debit air diduga dipengaruhi oleh sisa genangan dari hujan yang belum sepenuhnya surut. Kondisi tersebut diperparah oleh curah hujan tinggi pada Minggu pagi. Ia berharap ada penanganan serius daripihak terkait agar banjir yang kerap terjadi tidak terus berulang.
Di kawasan Baamang Tengah, kondisi ini disebut sudah berulang dalam sepekan terakhir.
“Dalam seminggu ini rumah kami dimasuki air hujan karena semua parit-paritnya buntu. Tadi hujan lebih dari dua jam, air masuk dari teras sampai kamar,” ujar Novi, warga setempat.
Ia menilai persoalan utama bukan semata curah hujan, melainkan sistem drainase yang tidak berfungsi optimal. Banyak saluran air tersumbat hingga membuat aliran air tidak lancar.
“Memang pemda harus bertindak supaya tidak berkepanjangan. Jangan ada kompromi lagi dengan penutupan drainase,” imbuh Novi.
Hal senada disampaikan Topa, warga lainnya. Menurutnya, banjir akibat air hujan seharusnya bisa teratasi apabila saluran air berfungsi dengan baik.“Ini kan air hujan, harusnya bisa diatasi kalau saluran air itu bekerja optimal,” katanya.
Baca Juga: Diguyur Hujan Lebat, 14 Ruas Jalan di Kota Sampit Tergenang
Pria ini juga mendesak pemerintah daerah agar memprioritaskan penanganan banjir, setidaknya untuk mengurangi dampaknya yang terus berulang di lingkungan warga.“Paling tidak ada langkah cepat supaya genangan ini bisa berkurang, jangan sampai setiap hujan pasti begini,”keluhnya.
Sementara itu diketahui, secara geografis, beberapa wilayah di Baamang dan Mentawa Baru Ketapang berada di dataran rendah, yang rentan terimbas pasang surut Sungai Mentaya.
Ketika hujan deras terjadi dalam waktu lama bersamaan dengan kondisi air sungai pasang, aliran air dari dalam kota menjadi tertahan dan berbalik menggenangi permukiman.
Di sisi lain, kondisi sungai-sungai dalam kota dan saluran air mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang tidak tertangani secara rutin, sehingga kapasitas daya tampung air berkurang. Selain itu diperparah dengan banyaknya saluran drainase yang tertutup oleh bagian bangunan, dan jarang dilakukan pengawasan ketat serta penertiban.
Sebelumnya, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis, sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Namun, di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) saat ini masih berada dalam fase musim hujan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menyampaikan bahwa masa peralihan musim di Kotim diprakirakan baru akan terjadi antara April hingga Mei 2026.
“Memang sebagian besar daerah di Indonesia sudah masuk masa peralihan musim, untuk Kotim saat ini masih musim hujan. Peralihan ke musim kemarau kemungkinan terjadi April atau Mei,” ujarnya, belum lama tadi.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa fase peralihan atau pancaroba justru menjadi periode yang perlu diwaspadai. Pasalnya, kondisi cuaca pada masa ini cenderung tidak menentu dan berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem.
Sementara itu mengenai pembenahan drainase perkotaan, dari catatan Radar Sampit, terakhir dilakukan secara masif oleh Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DSDABMBKPRKP) setempat, pada Desember 2025 lalu. Seperti di Jalan Pelita Barat yang mengarah menuju Jalan Moh Hatta (Jalur Lingkar Selatan) Kota Sampit, yang sering tergenang banjir. Ketika itu, saluran drainase yang dangkal, sehingga air tak lekas surut pasca hujan deras. Begitu pula drainase di Jalan Pelita Barat. Normalisasi saluran drainase juga dikerjakan di Jalan HM Arsyad, Suprapto dan Walter Condrat. (yn/ang/oes/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama