Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Atasi Banjir, Tata Kota Sampit Perlu Dievaluasi

Rado. • Jumat, 1 Mei 2026 | 20:59 WIB
Genangan air di salah satu sudut Kota Sampit, setelah hujan lebih dari 3 jam, Kamis (30/4).(dok/yuni/radarsampit)
Genangan air di salah satu sudut Kota Sampit, setelah hujan lebih dari 3 jam, Kamis (30/4).(dok/yuni/radarsampit)

SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Salah satu tokoh di Kotawaringin Timur (Kotim) yang juga Mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Supriadi, melontarkan kritik terhadap pemerintah daerah terkait penanganan banjir di Kota Sampit.

Ia menilai, banjir bukan sekadar persoalan teknis drainase, melainkan cerminan kegagalan dalam penataan kota yang tidak pernah diselesaikan hingga ke akar masalah.

“Ini bukan masalah baru. Sudah sejak lama banjir di kawasan permukiman terjadi, tapi tidak pernah dituntaskan. Ini menunjukkan kegagalan dalam penataan kota,” ujarnya.

Menurutnya, genangan air yang terus terjadi di sejumlah titik, termasuk di jalur Jalan Tjilik Riwut Sampit, menjadi bukti lemahnya penanganan drainase perkotaan dari waktu ke waktu.

“Contoh saja di Tjilik Riwut, genangan itu terus terjadi dan tidak pernah benar-benar dibereskan sejak masa kepemimpinan kepala daerah terdahulu. Artinya political will untuk menyelesaikan persoalan ini memang tidak ada,” sebut Supriadi.

Dirinya juga menyoroti kondisi wajah kota yang menurutnya semakin semrawut dan kotor akibat lemahnya pengawasan tata ruang, serta pembiaran terhadap pelanggaran estetika.

“Jujur saja, wajah Kota Sampit sekarang makin semrawut dan kotor. Ini akibat pembiaran yang terlalu lama,” sebutnya.

Baca Juga: Sampit Dikepung Genangan Banjir, Puluhan Rumah dan Fasilitas Umum Terdampak

Ia menegaskan, persoalan banjir di Sampit bersifat sistemik. Selain drainase yang tidak terintegrasi, maraknya bangunan yang menutup saluran air, minimnya infrastruktur di kawasan permukiman baru, serta buruknya pengelolaan sampah dan limbah turut memperparah kondisi.

Supriadi menilai, selama ini penanganan yang dilakukan pemerintah masih bersifat parsial dan reaktif, tanpa perencanaan jangka panjang yang jelas.“Selama ini yang dilakukan hanya tambal sulam. Tidak pernah ada desain besar penanganan banjir kota,” ujarnya.

Demi memperbaiki hal itu, dirinya mendorong pemerintah daerah segera melakukan evaluasi total terhadap sistem tata kota Sampit, termasuk menyusun masterplan drainase yang terintegrasi hingga ke Sungai Mentaya sebagai muara utama.

Selain itu, ia menekankan pentingnya normalisasi dan revitalisasi saluran drainase secara menyeluruh, serta penertiban tegas terhadap bangunan yang berdiri di atas saluran air.

“Harus ada keberanian untuk menertibkan dan membenahi dari hulu ke hilir. Kalau tidak, banjir ini akan terus berulang setiap tahun,” imbuh Supriadi.

Ia juga mengingatkan, persoalan ini tidak hanya berdampak pada genangan air, tetapi juga merusak infrastruktur, mengganggu aktivitas masyarakat, serta menurunkan kualitas lingkungan dan wajah kota.

“Kalau tidak dibenahi sekarang, masalah ini akan terus diwariskan. Setiap hujan, masyarakat yang menanggung dampaknya,” tandas Supriadi.(ang/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#pemerintah daerah #atasi banjir #Kegagalan #sampit #tata kota