SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada Minggu malam (19/4/2026) menyebabkan sejumlah kawasan tergenang air.
Salah satu titik terdampak berada di area pasar Parenggean yang sempat terendam cukup tinggi.
Hujan dilaporkan turun sejak selepas Magrib dengan intensitas tinggi, membuat drainase tak mampu menampung debit air. Akibatnya, genangan meluas hingga ke area aktivitas warga.
Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat para pedagang panik menyelamatkan barang dagangan mereka dari rendaman air.
Beberapa di antaranya berusaha mengangkat barang ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kerugian lebih besar.
Tak hanya pasar, sebuah lokasi layanan permainan anak di sekitar kawasan tersebut juga tampak ikut terendam air.
Genangan sempat mengganggu aktivitas warga sebelum akhirnya berangsur surut.
Warga setempat menyebutkan, banjir yang terjadi bersifat sementara. Air hujan hanya melintas dan tidak berlangsung lama.
Memasuki Senin pagi (20/4/2026), kondisi di lokasi dilaporkan sudah kembali normal dan genangan air telah mengering.
"Banjir di Parenggean sudah kering, airnya cuma lewat," ungkap Mama Rara, salah seorang warga.
Sementara itu, kondisi cuaca ekstrem ini sejalan dengan peringatan dini yang sebelumnya dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Lembaga tersebut memprediksi potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di wilayah Kalimantan Tengah dalam periode 19–21 April 2026.
Fenomena ini dipicu oleh adanya belokan angin dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Kondisi tersebut diperkuat dengan kelembapan udara tinggi serta atmosfer yang labil.
Seperti terlihat dari kejauhan di wilayah Sampit, awan hujan pekat menggantung di langit, menjadi tanda meningkatnya potensi cuaca buruk di wilayah Kotawaringin Timur dan sekitarnya.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi dampak cuaca ekstrem, seperti genangan air, banjir, pohon tumbang, hingga gangguan aktivitas harian. Warga juga diminta rutin memantau informasi cuaca resmi sebagai langkah antisipasi. (oes)
Editor : Slamet Harmoko