SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mendadak mulai memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat. Penyesuaian tarif yang diberlakukan PT Pertamina (Persero) sejak Sabtu (18/4) dinilai berpotensi berdampak pada biaya transportasi hingga harga kebutuhan pokok.
Berdasarkan informasi resmi wilayah Kalteng, sejumlah jenis BBM non-subsidi mengalami lonjakan signifikan dibandingkan Maret lalu. Pada Sabtu (18/4), harga Pertamax Turbo kini dibanderol Rp19.850 per liter dari sebelumnya sekitar Rp13.350. Dexlite naik menjadi Rp24.150 per liter dari Rp14.500, sementara Pertamina Dex menrmbus Rp24.450 per liter dari sebelumnya sekitar Rp14.800.
Sementara haga BBM bersubsidi masih bertahan. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan solar subsidi Rp6.800 per liter. Sementara Pertamax juga belum mengalami perubahan an, yakni Rp12.600 per liter.
Kenaikan harga paling terasa pada sektor pengguna BBM non-subsidi, khususnya kendaran pribadi dan angkutan berbahan bakar diesel. Warga mulai menghitung ulang pengeluaran harian, terutama bagi yang selama ini mengandalkan jenis BBM dengan kualitas lebih tinggi.
Eddy, salah satu warga Sampit, mengaku harus menyesuaikan anggaran bahan bakar setelah lonjakan harga BBM tersebut. “Selisihnya sekarang jauh lebih tinggi, jadi harus dipertimbangkan lagi penggunaan kendaraan,” ujarnya.
Kekhawatiran lain juga disampaikan Jami, warga lainnya. Ia khawatir kenaikan BBM non-subsidi berpotensi memicu kenaikan harga barang di pasaran. “Kalau truk pengangkut barang pakai BBM non-subsidi, bisa-bisa biaya distribusi naik. Pasti akan berpengaruh ke harga kebutuhan pokok,” katanya.
Devi, salah satu pengusaha sektor UMKM di bidang pertanian padi di Kelurahan Pegatan Kecamatan Katingan Kuala, juga mengungkapkan kecemasannya.
Diungkapkannya, biaya angkut beras pakai perahu bisa naik juga. Karena bahan bakar angkutnya pakai Dextalite. Selain itu, dikhawatirkan biaya penggilingan padi pun akan terkerek naik, sehingga harga beras juga akan naik.
“Maunya pakai solar bersubisidi, namun stoknya sering habis. Jadi selama ini, bahan bakar perahu dari sana banyak pakai BBM Non Subsidi. Begitu pula dengan bahan bakar mesin penggilingan padi. Kalau kita berharap solar subsidi, sulit mencari barangnya,” papar Devi.(yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama