Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

20 Tahun Anniversary Radar Sampit. Menjaga Kepercayaan di Era Banjir Informasi

Agus Jaka Purnama • Jumat, 17 April 2026 | 00:00 WIB
Logo Anniversary 20 thn Radar Sampit. (tim redaksi)
Logo Anniversary 20 thn Radar Sampit. (tim redaksi)

Radar Sampit terus berkembang sebagai media massa dan platform populer bagi masyarakat, dengan menyajikan berbagai informasi, baik versi cetak koran, website, media sosial, termasuk Instagram, YouTube, TikTok dan Facebook dan kanal-kanal lainnya.

Di era digitalisasi saat ini. Radar Sampit sadar disrupsi digital atau lajunya perubahan yang dipicu oleh teknologi digital, mengubah cara hidup, berbisnis, dan industri secara masif. Inovasi ini menciptakan pasar baru, menghilangkan batasan konvensional, serta menuntut adaptasi cepat agar tidak tertinggal dengan perubahan zaman.

Hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan mengubah lanskap media massa. Salah satu tantangan; Teknologi ini mampu melahirkan informasi dengan cepat dan masif. Salah satunya berupa rangkuman informasi di mesin pencarian Google. Namun kadang mengabaikan proses verifkasi dan validitas.

Artinya, nilai dasar jurnalisme—kebenaran, verifikasi, dan akuntabilitas, tetap tidak tergantikan. Melawan algoritma AI, masih bisa dengan kualitas. AI bisa memproduksi konten massal, tetapi jurnalis manusia unggul dalam kedalaman konteks, empati, etika, dan investigasi mendalam.

Kendati demikian, kemajuan teknologi bukanlah musuh atau rival, melainkan bisa menjadi “teman’ kolaborasi dalam menyajikan karya-karya jurnalistik.

Publik dan pembaca pun tidak lagi hanya menjadi konsumen atau sekedar pembaca, tetapi juga penjaga gawang informasi. Cek ulang dan cek kembali, jadi benteng pertahanan melawan informasi palsu, tidak bertanggungjawab.

Di satu sisi, masih rendahnya minat baca juga menjadi tantangan tersendiri. “Banyak pembaca atau netizen enggan cross-check berita dari sosial media ke media yang lebih kredibel yang terverifikasi di Dewan Pers Nasional.

Namun kami di Radar Sampit yakin, dengan dukungan dan kepercayaan publik, dengan memilih sumber berita yang dapat dipercaya, akan membantu ekosistem karya jurnalistik yang sehat untuk tetap bertahan di tengah gempuran konten-konten sensasional. Kami berkomitmen, terus menjaga perhatian publik di tengah banjirnya informasi.

Tebar Harapan, Bukan Kecemasan

Dunia bergejolak lagi saat ini. Efeknya seperti domino ke berbagai sektor. Ditambah lagi gejolak anggaran pemerintah kita. Media pun berpacu makin mempercepat penyebaran informasi. Kabar yang disajikan ke publik semakin jadi pertaruhan.

Bisa kita lihat, rekayasa informasi atau narasi, dengan audio bahkan visual semakin sering muncul di beranda.

Ingat situasi ketika pandemi Covid-19 melanda, 5 tahun silam. Mengutip dari Observatory Infodemic Foundation. Di masa itu, ditemukan bahwa dari 178 juta tweet yang terkait dengan Covid-19 diproduksi oleh bot, dan 40persen tidak bisa diandalkan kebenarannya. Selain itu, Aliansi CoronaVirusFacts telah menemukan sekaligus membantah lebih dari 3.500 informasi menyesatkan, berasal dari 70 lebih negara dan lebih dari 40 bahasa.

UNESCO pada 2020 mencatat, persoalan bukan hanya volume dan kecepatan beredarnya informasi palsu, melainkan juga dikombinasi dengan narasi-narasi emosional dan kecemasan.

Karin Wahl, seorang Profesor dan Direktur Pengembangan Penelitian dan Lingkungan, Sekolah Jurnaslisme Universitas Candiff , Walles, dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ketakutan telah memainkan peranan yang sangat vital dalam mempengaruhi opini dan sikap publik. Ketika itu, wabah corona jauh lebih menonjol dalam liputan jika dibandingkan dengan epidemi-epidemi sebelumnya seperti Ebola.

Contohnya; sepanjang Januari 2020, pemberitaan yang menyebutkan kata “coronavirus” memenuhi lebih dari 41.000 artikel berita cetak dalam bahasa Inggris, dan 19.000 diantaranya memasukkannya dalam headline.

Kita bisa melihat bagaimana pemberitaan media menampilkan sudut pandang yang menakutkan dan mencemaskan. Seperti seorang pasien di Wuhan yang menggunakan masker tiba-tiba pingsan di jalan, ratusan warga yang ketakutan mengantri dan berjaga jarak karena berisiko menulari satu sama lain, koridor rumah sakit yang sempit diisi dengan pasien- pasien yang menunggu dokter dengan menggunakan jas hazmat putih, hingga video tenaga medis yang depresi karena kelelahan menghadapi lonjakan pasien setiap harinya.

Kita bisa rasakan ketika itu, bagaimana rasanya diliputi kecemasan, ketakutan bahkan merasa pupus harapan.

Dari kasus itu, Radar Sampit di usia ke 20, ingin mengambil hikmah, bahwa konten media sangat penting untuk dikaji bersama dalam situasi yang sedang bergejolak seperti sekarang ini.

Tentunya kita pun tidak ingin, konflik di Timur Tengah semakin terasa dampaknya ke daerah kita. Sebagaimana naiknya harga plastik kemasan kopi di setiap caffe yang menjamur saat ini.

Sebagai media multiplatform, Radar Sampit merasa turut memiliki peran dan tanggungjawab dalam mengontrol emosi publik. Sebagaimana salah satu peran media, yakni turut memberikan edukasi, menjalankan fungsi kontrol sosial, dan bukan menyebar narasi ketakutan dan kecemasan, dengan prasangka dan duga menduga.

Radar Sampit akan mengawal fungsi tersebut, agar publik memiliki harapan besar, terinspirasi, terbuka solusi untuk melewati masa-masa kelam, masa-masa sulit, masa-masa menegangkan.

Kami di Radar Sampit yakin dan optimis, bertumbuh dan berkembang itu perlu ketenangan, perlu kestabilan, perlu kontrol sosial. Bukan menebar awak kecemasan dan ketakutan. 

Kesimpulannya, di situasi saat ini kita semua memerlukan kolaborasi dengan energi serta vibrasi positif untuk melewati gejolak yang terjadi. Supaya Badai Cepat Berlalu. (gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#radar sampit #informasi #platform #Anniversary #publik