Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Tegaskan Tak Ada 'El Nino Godzilla', BMKG Kotim Tetap Minta Waspadai Ancaman Karhutla 2026

Usay Nor Rahmad • Selasa, 31 Maret 2026 | 10:43 WIB

 

Kebakaran lahan yang terjadi di Desa Bengkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yang berlangsung hingga malam hari, baru-baru ini.
Kebakaran lahan yang terjadi di Desa Bengkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yang berlangsung hingga malam hari, baru-baru ini.

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Isu fenomena “El Nino Godzilla” yang disebut-sebut akan melanda Indonesia mulai April 2026 ramai diperbincangkan dan memicu kekhawatiran masyarakat.

Istilah tersebut mencuat setelah adanya peringatan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait potensi cuaca ekstrem.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menjadi perhatian utama, mengingat bencana ini kerap terjadi saat musim kemarau panjang.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa istilah “El Nino Godzilla” tidak dikenal dalam kajian ilmiah meteorologi.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa El Nino diklasifikasikan berdasarkan tingkat kekuatannya, yakni lemah, sedang, dan kuat.

“Dalam kajian BMKG tidak ada istilah El Nino Godzilla. Kami menggunakan kategori El Nino lemah, sedang, dan kuat,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Meski demikian, BMKG tidak menampik adanya potensi El Nino di Indonesia pada 2026. Peluang kemunculannya diperkirakan berkisar antara 50 hingga 60 persen, termasuk di wilayah Kotim.

“Potensinya sekitar 50 sampai 60 persen, diperkirakan mulai Mei hingga Juli. Saat ini masih dalam kategori lemah menuju sedang,” jelasnya.

Ia menerangkan, El Nino kuat umumnya ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik di atas 2 derajat Celsius.

Sementara saat ini, kenaikan suhu masih berada di kisaran 0,5 derajat Celsius, sehingga belum mengarah pada kategori kuat.

Meski belum signifikan, BMKG Sampit tetap mengingatkan adanya potensi musim kemarau yang lebih panjang pada tahun ini. Di Kotim, musim kemarau diprakirakan mulai terjadi pada akhir Mei 2026.

Durasi Kemarau Lebih Panjang

Durasi kemarau bahkan diprediksi mencapai 100 hingga 120 hari atau hampir empat bulan, jauh lebih lama dibandingkan kondisi normal yang hanya sekitar 60 hari.

“Kalau biasanya musim kemarau terjadi selama enam dasarian atau sekitar 60 hari. Tahun ini diprediksi bisa mencapai 10 hingga 12 dasarian, atau 100 sampai 120 hari,” terang Mulyono.

Dengan durasi yang lebih panjang, tingkat kekeringan juga diperkirakan meningkat. Kondisi ini menjadi faktor utama yang memperbesar risiko terjadinya karhutla, khususnya di lahan gambut yang dikenal sulit dipadamkan jika sudah terbakar.

BMKG pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Selain karhutla, potensi lain yang perlu diantisipasi adalah kekeringan dan kesulitan air bersih,” tandasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#BMKG #el nino #El Nino Godzilla