Ramainya istilah “Godzilla” El Nino di ruang publik belakangan ini, memicu kekhawatiran banyak kalangan. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan agar publik tidak salah memahami istilah tersebut, karena bukan bagian dari terminologi ilmiah resmi.
----------------------------
"Godzilla" El Nino adalah istilah populer untuk fenomena pemanasan suhu permukaan laut yang ekstrem di Pasifik. Secara umum di Indonesia diprediksi mulai April 2026. Fenomena ini disebut sebut mengancam beberapa wilayah Indonesia dengan musim kemarau lebih panjang, suhu sangat panas, dan risiko kekeringan tinggi. Sehingga dapat memicu penurunan produksi pangan dan gagal panen.
Menurut Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, dalam kajian ilmiah, BMKG mengklasifikasikan El Nino berdasarkan kekuatannya, yakni lemah, sedang, hnigga kuat.
“Istilah itu lebih ke penyebutan populer untuk menggambarkan kondisi ekstrem. Secara ilmiah kami tidak menggunakan istilah tersebut,” ujarnya, Senin (30/3).
Meski demikian lanjutnya, BMKG tidak menampik adanya potensi El Nino pada tahun ini. Secara nasional, peluang kemunculannya diperkirakan berada di kisaran 50 hingga 60 persen, termasuk di wilayah Kabupaten Kotim.
Mulyono menyebutkan, fenomena tersebut diprediksi mulai terbentuk pada periode Mei hingga Juli 2026. Saat ini, kondisi masih berada pada fase lemah yang berpotensi menguat ke tingkat sedang.
Ia menjelaskan, indikator El Nino kuat ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik lebih dari dua derajat Celsius. Hingga kini, kenaikan suhu masih berada di sekitar 0,5 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria tersebut.
“Masih terus kami pantau dan analisa. Belum bisa dikategorikan kuat,” tegas Mulyono.
Di tingkat daerah menurutnya, dampak yang mulai diantisipasi adalah perubahan pola musim. BMKG memperkirakan awal kemarau di Kotim terjadi pada akhir Mei hingga awal Juni.
Namun ungkap Mulyono, durasi musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dibandingkan biasanya. Jika rata-rata kemarau berlangsung sekitar dua bulan, tahun ini berpotensi mencapai 100 hingga 120 hari.
Kondisi tersebut berisiko meningkatkan kekeringan di sejumlah wilayah. Dampaknya dapat dirasakan pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Durasi lebih panjang berarti tingkat kekeringan juga lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya,” pungkas Mulyono.
Sementara itu, prediksi cuaca dalam beberapa hari ini, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan masih mengguyur wilayah Kalimantan Tengah, mulai 30 Maret hingga 1 April 2026.
Namun, BMKG tetap mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca ekstrem.
Dalam rilis Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, kondisi atmosfer di Kalteng saat ini dipengaruhi adanya belokan angin dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi. Fenomena ini memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan di sejumlah wilayah.
“Didukung kelembaban udara yang cukup basah serta labilitas lokal yang kuat, kondisi ini meningkatkan potensi terbentuknya awan konvektif penyebab hujan,” demikian keterangan BMKG, Senin (30/3).
Sejumlah daerah diprakirakan terdampak hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Meliputi Kotawaringin Barat, Sukamara, Lamandau, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas, Pulang Pisau, hingga Palangka Raya.
BMKG juga mengingatkan bahwa hujan yang terjadi berpotensi bersifat lokal dengan durasi singkat, namun intensitasnya cukup tinggi. Kondisi ini bisa memicu kejadian cuaca ekstrem seperti angin kencang hingga puting beliung.(yn/oes/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama