PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com- Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menggelar audensi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se Palangka Raya, di aula Istana Isen Mulang, Minggu (29/3). Di forum itu, ia bicara terbuka mulai dari komitmen membangun hingga realita pemangkasan anggaran daerah.
Di hadapan mahasiswa, diakuinya tantangan besar menghadang. APBD Kalimantan Tengah tahun 2026 disebut anjlok drastis, dari sekitar Rp10,3 triliun pada 2025 menjadi hanya Rp5,4 Triliun.
“Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar. Tapi kami tetap berkomitmen menjalankan program prioritas yang benar-benar menyentuh masyarakat,” tegas Agustiar Sabran.
Dipaparkannya, pembangunan akan tetap difokuskan pada sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur, hingga program berbasis kesejahteraan masyarakat. Selain itu, pemerintah juga berupaya memastikan bantuan sosial benar-benar tepat sasaran.
Menurut Agustiar, mahasiswa tidak hanya akan berperan secara administratif, tetapi juga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata, termasuk dalam mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Mahasiswa akan kita libatkan sebagai staf khusus, tentu dengan kriteria tertentu. Kita butuh pemikiran segar untuk menghadapi tantangan ke depan,” katanya.
Agustiar juga menyoroti program Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS) sebagai salah satu program unggulan Pemprov Kalteng. Program ini dirancang untuk memperkuat perlindungan sosial dan memperluas akses layanan bagi masyarakat.
Dirinya juga mengajak mahasiswa untuk ikut berperan aktif dalam mengawal pelaksanaan program tersebut, agar tepat sasaran.“Mahasiswa punya peran penting sebagai pengawal kebijakan dan mitra kritis pemerintah,” imbuhnya.
Audiensi berlangsung dalam suasana dialogis. Pemprov Kalteng lanjut Agustiar, membuka ruang seluas-luasnya bagi partisipasi, masukan, hingga kritik dari kalangan mahasiswa.
Ia menilai, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, selama tetap dijaga dalam semangat kebersamaan dan kepentingan masyarakat luas.
Dengan luas wilayah Kalteng yang besar serta tantangan efisiensi anggaran, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mendorong pembangunan yang merata.
“Pertemuan ini diharapkan tidak berhenti pada wacana. Pemerintah membutuhkan dukungan sekaligus kontrol dari mahasiswa agar kebijakan yang dijalankan benar-benar berdampak bagi masyarakat. Mahasiswa juga dituntut tidak hanya kritis, tetapi mampu menawarkan solusi yang inovatif dan aplikatif,” papar Agustiar Sabran.
Dirinya merencanakan perekrutan staf khusus dari kalangan mahasiswa guna memperkuat pembangunan di Kalteng. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya strategis untuk melibatkan generasi muda dalam proses pembangunan daerah. Sekaligus menghadirkan ide-ide segar yang adaptif terhadap tantangan zaman.
“Mahasiswa nantinya akan kita libatkan sebagai staf khusus, tentu dengan kriteria tertentu yang harus dipenuhi,” ungkapnya.
Agustiar menjelaskan, keterlibatan mahasiswa tidak hanya sebatas dukungan administratif, tetapi juga diarahkan pada kontribusi nyata dalam mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurut dia, kondisi efisiensi anggaran yang tengah diterapkan pemerintah daerah saat ini menjadi tantangan tersendiri, sehingga diperlukan inovasi dan kolaborasi lintas sektor, termasuk dari kalangan akademisi muda.
“Saya mengajak dan memohon dukungan dari seluruh elemen pemuda dan mahasiswa agar turut menyukseskan implementasi Kartu Huma Betang Sejahtera. Saya terbuka terhadap berbagai masukan yang membangun, sebagai bagian dari upaya kita bersama dalam mewujudkan Kalimantan Tengah yang semakin maju, berdaya saing, dan sejahtera,”pungkas Agustiar Sabran. (daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama