Tradisi Betawakan adalah perang air khas Kabupaten Sukamara, yang berlangsung di sepanjang Sungai Jelai saat lebaran (Idul Fitri/Idul Adha). Warga beradu air warna-warni menggunakan kantung plastik dari atas perahu, kelotok, atau speedboat. Tradisi ini sebagai bentuk syukur dan pererat tali persaudaraan
-------------------------------------
Tradisi ini merupakan wujud sukacita, kegembiraan bersama, dan ajang silaturahmi yang menumbuhkan rasa persaudaraan. Selain itu telah menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang terus dilestarikan oleh masyarakat Sukamara.
Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah tahun ini, tradisi ini kembali ramai di sepanjang Sungai Jelai Sukamara, mulai lebaran hari pertama sampai hari ketiga. Aksi itu pun ramai menjadi tontotan warga dari pinggir sungai.
Sekira mulai pukul 4 sore setelah waktu Salat Ashar, bibir sungai Jelai ramai dikunjungi warga. Mereka ingin melihat keseruan perang air di tengah sungai. Anak-anak dan para remaja nampak bersiap ikut dalam saling lempar air tersebut.
Masing-masing kelompok mempersiapkan air yang dibungkus dengan plastik transparan. Sebagian mereka ada yang melempar dari bibir sungai, sebagian lagi hilir mudik menggunakan perahu mesin kecil atau kelotok hingga speedboat.
Setiap lewat, kelompok yang berada di bibir sungai langsung melempar dengan kantung air, begitupun mereka yang di atas kelotok langsung membalas.Bahkan ada yang menggunakan pompa air dan disemprotkan ke lawan. Gelak tawa dan sorak sorai seketika terdengar jika lemparan air mengenai sasaran.
Bagi yang terkena lemparan, boleh membalas namun tidak boleh dengan sikap emosi. Meski saling lempar, tak ada saling emosi dan caci maki. Kegiatan ini tentu sebagai ungkapan kegembiraan dan sekaligus ajang silaturahmi warga.
Mereka terlihat bergembira sembari hilir mudik menggunakan kelotok (perahu mesin kecil).
“Cukup menghibur melihat mereka saling lempar. Lucu dan seru menontonnya,” kata Agus, salah seorang warga.
Menurutnya, apa pun tradisi yang masih ada di Sukamara saat ini kiranya patut dipertahankan dan dilestarikan sehingga menjadi ciri khas Kota Sukamara. Siapa berperan, tentunya masyarakat sendiri dan pemerintah daerah. Tanpa adanya dukungan dari pemerintah daerah, pasti tradisi terkubur oleh zaman.
Selain sebagai ajang pelestarian budaya, tradisi Betawakan air ini juga membawa dampak positif terhadap sektor ekonomi, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ramainya pengunjung menjadi peluang bagi UMKM untuk berkembang.
Namun di sisi lain, tradisi ini tak luput menghasilkan sampah plastik yang mengapung di Sungai, sehingga pemerintah setempat selalu mengajak masyarakat setempat agar, kembali membersihkan sampah plastik sisa-sisa kegiatan Betawakan Air tersebut. (*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama