Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Saling Klaim Kepemilikan, Dua Kubu Warga Nyaris Bentrok di Lahan Sengketa Irigasi Danau Lentang

Fahry Ilhami Samosir • Senin, 16 Februari 2026 | 19:22 WIB
Peristiwa itu dipicu saat pihak perusahaan, PT Borneo Sawit Perdana (BSP), melakukan penggarapan lahan yang diklaim sebagai milik Hendrik cs.
Peristiwa itu dipicu saat pihak perusahaan, PT Borneo Sawit Perdana (BSP), melakukan penggarapan lahan yang diklaim sebagai milik Hendrik cs.

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kawasan Irigasi Danau Lentang, Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga, berubah mencekam. Sengketa lahan antara warga dan pihak perusahaan nyaris berujung pertumpahan darah setelah dua kubu saling berhadap-hadapan dengan emosi yang tak lagi terkendali.

Peristiwa itu dipicu saat pihak perusahaan, PT Borneo Sawit Perdana (BSP), melakukan penggarapan lahan yang diklaim sebagai milik Hendrik cs.

Alat berat diturunkan, pekerja dikerahkan, dan ratusan pokok kelapa sawit mulai ditanam di atas lahan yang masih dalam status sengketa.

Mengetahui aktivitas tersebut, Hendrik bersama keluarga dan pendukungnya turun langsung ke lokasi.

Mereka berupaya menghentikan penanaman dan meminta alat berat dikeluarkan dari areal yang mereka klaim sebagai hak milik. Namun situasi tak berjalan mulus.

Di sisi lain, muncul kelompok yang mengaku sebagai pemilik sah lahan tersebut dan menyatakan telah menjualnya kepada pihak perusahaan.

Kedua kubu pun sama-sama bertahan, saling klaim, dan tak mau mundur selangkah pun.

Ketegangan semakin meningkat ketika aparat desa mencoba turun tangan.

Kepala Desa Luwuk Bunter sempat berada di lokasi untuk menenangkan situasi dan memberi penjelasan kepada kedua belah pihak. Namun bukannya mereda, suasana justru makin panas.

“Sudah sempat mau bubar, tapi tiba-tiba salah satu pihak terpancing emosi dan mengejar lawannya,” ujar seorang warga yang menyaksikan langsung insiden tersebut.

Kericuhan memuncak ketika aksi kejar-kejaran terjadi di tengah lahan yang baru saja ditanami. John Hendrik disebut ikut mengejar lawannya yang jumlahnya seimbang.

Dalam detik-detik paling menegangkan, kedua pihak dikabarkan sama-sama menghunus mandau. Suasana berubah mencekam. Warga yang berada di sekitar lokasi berteriak histeris dan berupaya melerai.

“Sudah sama-sama tarik mandau. Tinggal sedikit lagi mungkin sudah berdarah. Untung cepat ditahan warga,” kata saksi tersebut.

Beruntung, sejumlah warga sigap menahan tangan dan tubuh kedua belah pihak sebelum bentrokan fisik benar-benar terjadi.

Jika terlambat beberapa detik saja, bukan tidak mungkin kawasan irigasi tersebut berubah menjadi lokasi tragedi berdarah.

Kepala Desa Luwuk Bunter, Kurnainoor, membenarkan bahwa insiden tersebut benar terjadi dan situasinya sangat mengkhawatirkan.

Ia menyebut kedua belah pihak sama-sama terpancing emosi hingga menarik senjata tajam yang terselip di pinggang masing-masing.

“Memang benar ada insiden itu. Kedua belah pihak sudah sama-sama menarik senjata tajam. Situasinya sudah sangat tegang,” ujar Kurnainoor saat dikonfirmasi.

Menurutnya, keadaan bisa saja berubah menjadi tragedi berdarah jika warga lain yang berada di lokasi ikut tersulut emosi.

Beruntung, masih ada sejumlah warga yang memilih menahan diri dan justru bergerak cepat melerai sebelum bentrok fisik benar-benar pecah.

Ia menyayangkan konflik ini kembali terulang di lokasi yang sama. Kurnainoor menilai akar persoalan belum benar-benar diselesaikan, sementara aktivitas penggarapan tetap berjalan.

“Ini sudah kejadian kedua kalinya di tempat yang sama. Kita masih bersyukur tidak ada yang terluka. Tapi sampai kapan situasi seperti ini dibiarkan?” tegasnya.

Kurnainoor secara terbuka menyayangkan langkah pihak perusahaan, PT Borneo Sawit Perdana (BSP), yang dinilai masih memaksakan penggarapan di lahan yang statusnya disengketakan.

“Saya sangat menyayangkan perusahaan tidak ada upaya meredam dan menyelesaikan persoalan ini. Kalau terus dipaksakan seperti ini, potensi bentrok terbuka sangat besar,” katanya.

Ia berharap semua pihak menahan diri dan memilih jalur penyelesaian hukum atau mediasi resmi agar konflik tidak berkembang menjadi kekerasan yang merugikan semua pihak. (sir)

Editor : Slamet Harmoko
#sengketa lahan #sampit #kotim