Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Manggatang Utus dan Swalayan KPD, Dari 'Tukang' Menjadi Arsitek Masa Depan

A
Penulis: Admin❯
Plt. Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi Rismawati mewakili Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng dan Ambu Naptamis, dalam acara pembukaan KPD Cabang R.T.A. Milono Km. 6,5 Palangka Raya pada Selasa (26/5/2026). (Foto/Dok.: KPD Kalteng)
Plt. Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi Rismawati mewakili Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng dan Ambu Naptamis, dalam acara pembukaan KPD Cabang R.T.A. Milono Km. 6,5 Palangka Raya pada Selasa (26/5/2026). (Foto/Dok.: KPD Kalteng)

Advertisement

Oleh Renhart Jemi* | Editor Andriani SJ Kusni

Pembukaan Toko Swalayan Baru KPD Cabang RTA Milono Km. 6,5 di Palangka Raya pada 26 Mei 2026 bukan sekadar seremoni bisnis atau penambahan unit usaha baru.

Dibalik dekorasi grand opening dan deretan tamu undangan, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: tentang semangat membangun martabat masyarakat melalui gerakan “Manggatang Utus” artinya  Mengangkat Harkat Sesama.

Advertisement

Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi jaringan usaha besar dari luar daerah, kehadiran swalayan lokal seperti KPD (Koperasi Persekutuan Dayak) memiliki makna strategis.

Ia menjadi simbol bahwa masyarakat daerah tidak boleh selamanya hanya menjadi konsumen, penonton, atau tenaga kerja biasa di tanah sendiri. Sudah saatnya masyarakat lokal menjadi pemilik, pengelola, sekaligus penentu arah pembangunan ekonomi daerahnya.

Filosofi Manggatang Utus menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Pemberdayaan sejati bukan hanya memberi bantuan sesaat, melainkan menciptakan ruang agar masyarakat mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Advertisement

Swalayan KPD bukan hanya tempat jual-beli barang kebutuhan harian, tetapi juga ruang tumbuhnya kesempatan kerja, pembelajaran manajemen usaha, penguatan jaringan ekonomi lokal, hingga tempat lahirnya rasa percaya diri kolektif masyarakat. 

Lebih penting lagi, kehadiran swalayan ini menyampaikan kritik halus terhadap mentalitas yang selama ini sering menghambat kemajuan daerah: mentalitas “cukup”.

Ketika ada ungkapan bahwa kita “tidak kelebihan mimpi, tetapi mungkin kurang kaya mimpi”, sesungguhnya itu adalah ajakan untuk memperluas cakrawala berpikir. Banyak orang bekerja keras setiap hari, tetapi tanpa visi besar tentang masa depan. Akibatnya, pekerjaan hanya menjadi rutinitas, bukan jalan perubahan.

Di sinilah muncul kalimat yang cukup menggugah dari Kusni Sulang: “Tukang adalah kuli tanpa mimpi besar.” Kalimat ini tentu bukan merendahkan profesi tukang atau pekerja, melainkan kritik terhadap cara berpikir yang hanya bergerak ketika diperintah dan berhenti ketika pekerjaan selesai.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Masih Adakah Dayak Itu di Sini? 

Masih Adakah Dayak Itu di Sini? 

Koperasi Persekutuan Dayak (KPD) meresmikan cabang toko serba adanya yang ke empat di Jalan R.T.A. Milono Km. 6,5 Palangka Raya.

Tokoh Hindu Kaharingan, Basir Upu Ugoi A Bunu Tutup Usia

Tokoh Hindu Kaharingan, Basir Upu Ugoi A Bunu Tutup Usia

Masyarakat Dayak penganut Agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kehilangan salah satu tokoh, Basir Upu Ugoi A Bunu

Tradisi Berladang Dikhawatirkan Terancam Hilang oleh Inpres Nomor 11/2026 Soal Larangan Bakar Lahan

Tradisi Berladang Dikhawatirkan Terancam Hilang oleh Inpres Nomor 11/2026 Soal Larangan Bakar Lahan

Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026 terkait penguatan penegakan larangan pembukaan lahan dengan cara membakar, hilangkan tradisi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer