SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Harapan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur untuk menikmati layanan penerbangan dengan pesawat berbadan besar di Bandara Haji Asan Sampit akan segera terwujud.
Kepala Dinas Perhubungan Kotim Raihansyah mengungkapkan, seluruh tahapan teknis dan administratif telah terpenuhi, termasuk terbitnya Sertifikat Bandar Udara (SBU) dari Kementerian Perhubungan.
"Dengan terbitnya Sertifikat Bandar Udara, maka Bandara Haji Asan Sampit bisa dilandasi oleh pesawat berbadan besar semacam Airbus A320,"ujarnya, Jumat (13/2).
Pemkab Kotim telah mengantongi Sertifikat Bandar Udara (SBU) yang menjadi landasan hukum dan teknis bagi pesawat jenis Airbus A320 untuk beroperasi di Sampit. Sebelumnya, status bandara ini adalah Unit Pelayanan Bandar Udara (UPBU).
"Dengan keluarnya SBU, Bandara Haji Asan Sampit dinyatakan layak didarati pesawat berbadan lebar," katanya.
Raihansyah menjelaskan, kehadiran operator maskapai baru grup Lion Air seperti Super Air Jet dan Wings Air telah melalui empat fase evaluasi yang cukup ketat.Dimulai dari survei awal, peninjauan umum kondisi bandara,pemeriksaan kelaikan runway oleh tim teknis, lebar landasan, hingga kesiapan ground handling dan parkir pesawat.
Bandara Haji Asan Sampit memiliki landasan pacu sepanjang 2.060 meter dengan lebar 30 meter. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemkab Kotim telah mewacanakan perpanjangan runway sekitar 300 meter menjadi 2.360. Namun, hingga kini Pemkab masih berproses dalam penyelesaian pembebasan lahan.
Selain itu, sebelum pesawat Super Air Jet dan Wings Air beroperasi, tim maintenance juga telah menyiapkan prosedur pemeliharaan (engineering) jika terjadi kendala teknis pada pesawat. Begitu pula, terkait analisis rute penerbangan agar bisa terkoneksi dengan kota-kota lain, seperti rute lanjutan dari Surabaya.
Meskipun panjang dan lebar runway dinyatakan cukup, terdapat catatan mengenai ketebalan landasan atau Pavement Classification Number (PCN) yang belum memenuhi standar ideal.
"Saat ini, ketebalan PCN masih kurang sekitar 5 cm dari standar ideal. Dampaknya, pesawat Airbus A320 berkapasitas 180 penumpang hanya diperbolehkan membawa muatan sebesar 70 hingga 80 persen dari total kapasitas," papar Raihansyah.
Artinya, harus mengurangi penumpang dengan menambah bagasi. Perhitungan berat bobot pesawat, penumpang, dan bagasi hanya 70 sampai 80 persen.
Dishub Kotim menargetkan maskapai baru ini akan segera beroperasi sebelum Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah.
"Saat ini, pihak bandara sedang melakukan persiapan akhir di area terminal, mulai dari penataan konter tiket di bandara, kesiapan sistem IT untuk proses check-in dan boarding," ujarnya.
Raihansyah menambahkan, untuk menyambut kesiapan dua maskapai baru, pihak Bandara Haji Asan Sampit juga memodifikasi tangga pesawat karena posisi pintu Airbus A320 lebih tinggi dibandingkan pesawat yang selama ini beroperasi di Sampit.
Pemkab Kotim juga telah melakukan lobi kepada pihak swasta selaku pemilik operator dengan memaparkan potensi demand (permintaan) penumpang. Para pelaku usaha, termasuk agen travel umrah dan pengusaha lokal, menyatakan komitmennya untuk menggunakan jalur Sampit asalkan ada kepastian jadwal dan minim pembatalan (cancel).
Raihansyah menambahkan, rencana pengembangan ini juga telah mendapat lampu hijau dari Gubernur Kalimantan Tengah. Pembukaan rute di Sampit tidak akan mematikan bandara lain seperti di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya atau Bandara Iskandar Pangkalan Bun, melainkan demi percepatan pembangunan di Kalteng.
"Selain mengejar peningkatan PCN melalui dana Kementerian, prioritas jangka pendek lainnya adalah pemindahan gedung Pemadam Kebakaran (PK). Lokasi gedung saat ini terlalu ke tengah dan harus dipindahkan ke sebelah barat pada lahan yang telah dibebaskan agar sesuai rekomendasi keselamatan penerbangan," pungkasnya. (hgn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama